Kamis, 28 Mei 2020

hilang

Aku tahu, kamu sudah jadi milik perempuan itu. Tidak seperti aku, yang hanya sampai pada jatuh hati diam diam. Karna aku kira kamu tetap menunggu. 
Aku bersantai santai mencintaimu diam diam. Menulis namamu dalam hati, meminta dalam setiap doa. 
Ternyata , kamu keburu dimiliki. Aku kehilangan seorang yang belum pernah jadi milikku. 
Bisa apa aku, selain menelan antara sesal dan kecewa. Tanpa bisa aku ajukan prostes pada kamu yang bahkan tidak tahi, bahwa aku diam diam begitu mengagumi. 

Tapi, bukan kan ada yang maha membolak balikan hati. 
Bila Allah menjadikan kamu adalah takdirku , adalah sebuah yang aku aamiin kan paling khusuk. 
Tapi jika memang bukan, semoga aku bisa berlapang menerima. 
Karna Allah yang maha tau mana yang terbaik untuk hambanya. 
Bagaimana bisa ku sebut ini sebuah kehilangan, sedangkan yang kurasakan hilang adalah yang belum pernah kumiliki. 
Bisa bisanya aku sebut ini patah hati, dia saja tidak pernah tahu, aku diam diam sudah menulis namanya dalam hati. 

Padahal aku sedang memantaskan diri, agar dia tidak sungkan perkenalkan aku pada semesta. 

Hey! 
Kenapa malah dengan dia. 



Selasa, 26 Mei 2020

Berhenti.

sepertinya sudah kelewat batas aku menikmati kenangan yang seharusnya sudah usang. Seharusnya aku paham akan batas penghalang, antara kenangan dan hari ini. Hari ini harusnya sudah tidak ada lagi waktu untuk menikmati kenangan kenangan yang sudah seharusnya ditinggal. 

Aku sadar, aku menghakimi patah hatiku begitu larut. Aku melewatkan banyak hati yang mungkin lebih baik. Berkali kali tersirat rasa menyesal, melewatkan yang sempat ingin berjuang untuk singgah. 

Kepada hari ini, juga hari hari yang lain . Aku mau memulai . Semoga, Allah beri jalan . Aamiin.