Jumat, 07 Desember 2018

Siapa bilang bersama denganku mudah?

Aku ingin menikah, 
Bukan karna temanku jarinya sudah banyak yang terikat dengan cincin. 
Bukan juga karna banyak temanku yang sudah mengundang kepelaminannya.
Juga bukan karena melihat temanku yang sudah bersiap siap menjadi orang tua dan menyambut buah hatinya.

Aku ingin menikah, 
Jika memang sudah ada. 
Bukan sekedar datang mengucapkan cinta tapi akupun tidak yakin dengan siapa saja kata itu terucap. 
Aku ingin menikah jika memang sudah ada. 
Bukan sekedar ada saat cinta sedang hangat hangatnya,  tapi juga saat cinta itu mulai dingin tapi selalu berusaha agar tidak pernah hilang lalu acuh. 
Aku ingin menikah, 
Bukan hanya berjalan bersama tapi mampu menjadi imam yang menuntunku ke SyurgaNya. 
Aku ingin menikah, 
Saat perilaku ini sudah menuju Baik ataupun baru sedang menuju baik. 
Karna jodoh adalah cerminan diri. 

Jika memang jodoh ku memang sudah diberikan. 
Tentu aku ingin menikah. 

Jadi,  siapa bilang denganku itu mudah? 
Semoga kamu yang belum tau adalah siapa.  Mampu membimbing ke jalanNya. 

Selasa, 09 Oktober 2018

Salah

Sudahkah usai?
Rasanya baru saja memulai.
Sudahkah aku kehilangan lagi? Setelah baru saja sembuh, ketika baru saja sembuh dari sekian lama mencoba kembali untuk baik baik saja.

Sudahkah sampai diujung? Ketika hati ini baru saja tumbuh bunga bunga yang sebelumnya sempat mati.
Baru saja aku menikmati, ku kira kamulah yang kupilih . Kukira kamu lah yang tepat setelah sekian lama aku menutup hati.

Salah.
Ternyata begitu.

Senin, 08 Oktober 2018

Kepadamu yang kutakutkan hilang

Kamu yang kutakutkan hilang .

Aku jatu cinta, tapi takut seperti yang sebelumnya.  Aku takut berharap, takut kecewa seperti sebelumnya.

Takut terlalu cepat jika ku bilang aku jatuh hati. Pada sosok yang belum banyak ku tau. Aku masih terlalu buta untuk mengetahui tentangmu, tentang bagaimana kamu.

Jika baik semoga didekatkan. Bila sebaliknya , yasudah tidak apa . Biar aku kecewa sebelum perjalanan terlalu jauh.

Untuk kamu yang kutakutkan hilang. Aku tidak mau main main lagi.

Minggu, 07 Oktober 2018

Tidak salah kan?

Sudah cukup lama rasanya sendiri. Sejak berdua yang terakhir itu cukup menyakitkan.
Patah hatinya memang sudah lama aku lupakan bersama penyebabnya. Tapi kepercayaan rasanya masih belum utuh kembali kudapatkan.

Pernah beberapakali kucoba untuk buka hati. Tapi sampai sekarang, belum kutemui yang rasanya benar benar ingin mengajakku pada masa depannya.
Yang dulu kukira menyayangi dan menjaga saja, nyatanya begitu mudahnya pergi. Bagaimana dengan mereka yang aku saja tidak yakin.

Bahagianya melihat mereka yang melangkah bersama kedepan, bahkan banyak yang diajak untuk jadi teman hidup. Sedang aku? Kandidatpun belum kutemukan, apalagi memiliki.

Bukan banyak memilih, tapi menunggu yang benar ingin denganku. Yang bukan sebagai pilihan satu dari yang lain. Tapi memang tujuannya hanya aku.

Memang salah? Kurasa tidak. Sebagai seorang wanita yang maunya dapatkan yang setia. Yang maunya diajak jadi teman hidup bukan teman yang menemani sampai dia menemukan teman hidupnya. Aku tidak mau dijadikan tempat singgah. Melepaskan yang sudah lama singgah itu tidak mudah. Itu bukan sekedar argumenku, tapi jelas pernah menjadi kenyataan yang pernah ada.

Aku belajar selalu menjadi baik, memperbaikin diri walau mungkin sangat sedikit. Lalu tidak salah kan jika akupun mau pasangan yang sama sama menuju baik? .

Aku iri, akupun mau seperti mereka . Sudah bukan waktunya singgah singgah tidak jelas. Makanya aku memilih, bukan pilih pilih.

Senin, 02 Juli 2018

Bulan Juli

Sudah kebali ke Juli. Kukira aku sudah lupa, seorang yang tak terasa sudah begitu lama pergi. Tepat di bulan ini, sekarang sudah bertemu lagi dengan bulan yang sama.

Sudah begitu lama, namun rasanya baru saja ditinggalkan. Dukanya masih sering mampir. Sejak bulan Juli lalu, saat aku kau bawa dipersimpangan dan harus memutuskan yang terbaik. Katamu terbaik untukku, meski sampai sekarang aku masih belum paham dimana letak sebuah hal baik itu.

Sampai sekarang aku masih melanjutkan jalan setelah persimpangan itu, meski kadang menoleh persimpangan itu lalu ingin kembali padahal sudah tau, kamu tidak lagi disana.

Bagaimana menyingkirkan kenangan itu? Mengapa tidak semudah membuang figura kita?

Sudah kembali ke Juli. Bulan dimana kamu meninggalkanku dipersimpangan jalan. Seperti memberi pilihan untuk tetap bertahan atau pergi, tapi sebenarnya pergi adalah satu satunya pilihan. Dan bertahan adalah bayangan yang tidak bisa kupegang.

Kamu, adalah jalan yang diciptakan untuk dilewati bukan untuk berhenti . Aku tahu, tapi tidak paham. Aku masih belajar ,karna kamu pergi tanpa memberi kejelasan .

Jumat, 15 Juni 2018

Dari aku yang tak bernama

Apakah akan menjadi nyata, sebuah perasaan yang disimpan sendiri. Kamu yang tidak asing kudamba, namun hanya mendambakan sendiri saja. Bahkan, menyebutmu dalam doapun tidaklah berani. Entahlah, hanya takut kamu yang sejak awal tak lebih dari wajah yang diam diam kupandang, rasanya masih malu untuk kuceritakan dalam doa.
Aku yang tak bernama dihatimu, hanya mengidamkan tanpa ada langkah lebih jauh lagi, apalagi berlari untuk sebuah kenyataan.

Biar saja aku jatuh hati diam diam. Sama seperti awal saat wajahmu saja yang ku ingat. Tanpa tau nama atau apapun tentangmu. Entah, memang sejak pertama tidak ada yang kupikirkan lagi. Yang aku tau, aku hanya jatuh hati.

Sampai sekarang juga sama, jatuh hati tanpa mau bermimpi. Jatuh hati yang mungkin tidak akan pernah sampai.

Sabtu, 26 Mei 2018

Mati sendiri

Biarkan saja dihabiskan rindu rindunya. Rindu yang tidak pernah mempunyai rumah. Biar saja rindu itu kedinginan kemudian mati dengan sendirinya.

Dia hanya butuh berdamai dengan masalalunya. Kenangan yang selama ini menjadi tembok penghalang cintanya yang baru. Biarkan saja, nanti juga hancur sendirinya. Dia pasti akan berdamai, ditemani senja yang tak pernah bosan menemani sore.

Selasa, 15 Mei 2018

Cerita yang beda

Inginku datangi pantai itu. Bercerita pada jalan setapak yang kita pijak beriringan saat itu. Meski sekarang, tanganmu tidak lagi menggenggamku seperti kala itu.
Aku mau bilang pada ombak, agar jangan berdebur terlalu kencang  , karna tidak adalagi tubuh yang menahanku saat tak mampu menahan deburannya.
Akupun ingin memperingatkan angin, agar tidak lagi mengibas rambutku dengan sepoinya, karna tidak adalagi yang merapikannya dengan kelembutan yang begitu menyentuh sampai ke hati.

Ceritaku pada pantai, mungkin tentang banyak hal yang telah hilang . Begitu banyak yang hilang dari sebuah kepergian.

Sabtu, 12 Mei 2018

Mau lupa

Perih rasanya, ketika waktu masih belum membawaku pada sebuah lupa yang menjadi harapanku sejak kamu bukan lagi milikku. Rasanya benci sekali, kenapa begitu lamban untuk melupakan. Sudah terlalu lama rasanya, tapi waktu belum juga membawaku pada sebuah lupa.
Sampai kapan, aku lelah diingatkan kenangan. Mereka muncul begitu saja, bahkan ketika aku sedang mencoba membuka hati untuk sosok yang lain.

Dulu, aku pernah takut untuk meminta yang terbaik. Karna takut bukan kamu yang terbaik untukku. Serela itu aku tak meminta demi kamu yang ternyata malah lebih tega pergi tanpa menimbang nimbang lagi bagaimana aku nanti.

Benciku mungkinkah hanya mengambang diatas rasa kecewa saja? Akupun tidak mengerti. Rasanya segala tentangmu masih saja terlihat luar biasa dan ingin terus ku ulang. Seperti aku yang terus mengulang wajahmu dihari hari lalu.

Aku masih saja rindu sendiri. Entah kapan jera, padahal sudah jelas sekali kamu tidak akan kembali. Aku menyesal, mencintaimu sedalam ini .

Rabu, 09 Mei 2018

Tidak tau mau kemana

Tidak tau hati ini kemana. Hanya mencoba membukanya lagi . Meski masih merasa takut untuk kembali memulai. Salahkah jika begitu? Membuka kembali yang lama ditutup, meski sebenarnya perasaan yang harusnya ada sebenarnya belum ada. Entah itu dimana, sejak penghuninya sebuah kekecewaan aku tidak lagi menemukan sebuah kepercayaan untuk kembali mencinti.

Sudahlama juga aku tidak mengenal rindu. Sejak rindu yang ku kumpulkan setiap harinya diguyur begitu saja tanpa belas kasihan. Pertemuan menjadi sebuah jurang yang malah mematikan semua perasaan.

Aku hanya takut perasaan ini mati. Hanya mencoba kembali membangun apa yang pernah hancur. Hanya tidak ingin menyesal karna menyianyiakan yang datang . Bagaimana jika nanti yang datang adalah seorang yang sebenarnya baik untukku. Aku hanya membuka pintu dan menunggu, mana yang tetap bertahan dan benar ingin bersama. Bukan sekedar lagi untuk bertamu kemudian pergi.

Sabtu, 05 Mei 2018

Kepulangan

Aku sudah mengalah. Bersama daun kering,aku pergi bersama angin yang menghempas membawaku semakin menjauhimu. Tidak mau aku mengemis sesuatu untuk sebuah perasaan yang masih sanggup untuk ku hilangkan. Aku masih bisa untuk meredam, meski pernah terasa kuat sekali untuk ingin memiliki.

Kamu, yang pernah menjadi sebuah keinginan. Mencintaiku dengan banyak kebohongan. Lalu menghilang tanpa pernah memikirkan bagaimana aku yang ditinggal pergi kan?

Untuk apa datang lagi? Perasaan ini sudah pergi. Tidak lagi ada aku yang menghitung jam yang terus berganti menjadi hitungan hari. Hari hari yang menjadi sebuah penantian untuk kepulangan. Sampai aku lelah sendiri menunggu sendiri. Aku memang mencintaimu, tapi dulu ketika aku belum lelah menunggu. Menunggu sendirian untuk seorang yang berbohong itu tidak ada asik asiknya.
Pergi lagi saja, kepulanganmu bukan yang ku tunggu lagi.

Kamis, 03 Mei 2018

Melupakan

Kini aku tau apa artinya melupakan . Melupakan adalah bukan perihal membuang semua kenangan, semua cerita yang pernah ada. Melupakan yang pernah terjadi sampai kapanpun rasanya tidak akan pernah berhasil. Bagaimanapun menolak, semua sudah terlanjur terukir.

Yang aku tahu sekarang ,
Melupakan adalah ketika yang lalu bersamanya tiba tiba menyapa. Hatimu tidak layu. Tidak lagi kembali tertarik oleh cerita cerita yang ada dihalaman belakang.

Tapi ntahlah,
Entah kusudah lupa atau belum. Atau hanya berpura pura sudah melupakan.
Hanya kucoba untuk menerima perlahan lahan. Menerima dia bukanlah seorang yang bisa lagi ku sepanggil "sayang" .
Semua kulipat rapi, masih kuingat setiap lembar cerita yang pernah ada . Kusimpan entah sampai kapan. Mungkin nanti akan kusam lalu tak menarik lagi, kemudian lupa.

Minggu, 29 April 2018

Senja

Aku selalu menyukaimu. Meski kadang, melihatmu membuat hati teriris . Bersama bahagia, tidak juga terkecuali saat duka.
Sore dan senja, sore dan kisah, senja dan cerita masa lalu.
Sore ini aku datang mau bercerita, bersama angin yang pelan berhembus membahas kisah yang dulu pernah ada dan begitu indah sepertimu.

Senja,
Wajahku yang berseri-seri , tawaku yang mengisi wajah sore itu, juga seorang yang disampingku saat itu sudah tidak ada. Semua pergi seperti dibawa angin. Pelan pelan menjauh dan hilang tak berarah. Sudah aku kejat, namun tertinggal. Aku tidak mampu lagi mengejar.
Sore ini ku kembali menatapmu, sendiri tanpa ada dia disampingku lagi. Ia pergi membawa sepaket bahagia yang pernah dibawa. Meninggalkan ku bersama harapan yang sudah hampir mati. Kini tinggal aku yang menatapmu sendiri. Melihat keindahanmu sendiri meski stengah keindahannya sebenarnya adalah dimatanya.

Sabtu, 28 April 2018

Mungkin nanti

Ku hitung bulan demi bulan aku sendiri, sampai lupa ini bulan keberapa atau mungkin sudah menginjak tahun. Ada beberapa nama pernah hampir menyentuh hati yang lama tidak diisi nama seseorang yang biasanya disebut pasangan. Ada saja yang membuat ingin tetap mengosongkannya. Bukan terlalu memilih atau terus mencari yang lebih. Tapi ada saja yang membuat kembali mundur. Aku hanya ingin menjadi yang memang satu satunya, bukan pilihan dari diantara. Aku hanya ingin menjadi satu satunya, bukan dari karna yang memang kebetulan ada.
Tapi belum kutemukan itu, belum ku bertemu dengan yang benar berjuang. Sekarang hanya memantaskan diri, menjadi seorang yang baik, karna ku percaya pada janji Allah, seorang yang baik adalah untuk orang yang baik.

Minggu, 08 April 2018

Aku terima kenyataan, mencintaimu diam diam

Sebelumnya, cinta itu tidak ada. Aku masih menangisi cinta yang dulu. Cinta masalalu. Hatiku tak usai usai ku rapihkan. Berantakannya begitu berserak. Kepingannya mungkin terlalu kecil , kenangannya berserak dimana mana. Hingga sulit untuk ku satukan satu persatu menjadi utuh.

Sampai suatu hari, kamu datang menyatukannya begitu mudah. Tanpa sadar hati itu untuh namun tertulis nama baru .

Nama mu.
Nama yang entah sejak kapan ada. Menjadi penghuni baru, hingga aku terbiasa.
Aku lupa, tidak seharusnya menyimpan semua itu. Kamu bukanlah milikku. Ada wanita yang jauh lebih dulu, wanita yang dalam hatinya juga pasti ada namamu begitu juga sebaliknya.

Sedang aku? Hanya ada namamu dihati, bukan untuk sebaliknya.

Aku tidak akan meminta kamu menghapus namanya, karna ku tahu itu tidaklah mungkin. Biarlah saja aku menerima kenyataan untuk mencintaimu diam diam. Tanpa kamu harus tau, tanpa kamu perlu mengerti.

Biar ku sibukkan diri sendiri, agar ada pekerjaan lain selain mencintaimu diam diam. Karna itu sakit. Karna itu membuat hati nyaris kembali retak. Aku hanya tidak mau semua berantakan lagi. Jika berserak lagi, siapa lagi yang menyatukan?

Lagi apa kak? Aku kangen.

Sekarang kalo aku cape pulang kerja, ga ada lagi yang semangatin bilang "namanya juga kerja, masa ga cape" . Denger orang bilang gitu mungkin aku emosi, tapi kalo kaka yang bilang rasanya jadi seneng . Atau "cape hari ini ga akan kerasa besok, paling masuk angin aja." Siapa lagi coba yang ngelawak garing kaya gitu.

Atau saling cerita terus kamu bilang "kamu tau ga? Aku gananya"
Itu tuh gemes banget. Udah semangat banget cerita dijawab begitu. Tapi abis itu kamu ketawa sambil respon cerita aku.

Aku kangen ka.
Kaka dimana? Sama siapa? Udah makan belum? Kaka lagi telponan sama cewe ya? Lagi punya cewe baru ya? Lagi sama mantan apa calon pacar?

Kaka ga kangen aku tanya kaya gitu sekaligus? Terus kaka jawab, "kamu. Kamu itu cewenya".

Kamis, 05 April 2018

Aku tunggu sampai kapan?

Ini tulisanku yang ke tiga dimalam ini. Yang ku kira, ketika handphone ku kutaruh, saat kulihat ada panggilan tak terjawab darimu.

Aku salah.
Hari sudah mau berganti. Belum juga ada kabarmu.

Kamu tau , hatiku kini penuh dengan rindu,  penantian menenggelamkanku dimalam ini. Ku hitung jam perjam, menebak nebak di jam berapa bisa mendengar suaramu. Atau setidaknya sebuah pesan berisi rindu seperti biasanya.

Kesal.
Aku kesal setiap handphone ku bergetar. Kulihat bukan dari kamu. Kenapa yang lain, kemana kamu? Memangnya tidak bisa mereka mengirim pesan tidak dimalam ini.
Aku ini sedang menunggu. Menunggu kamu. Kenapa malah bukan kamu yang datang.

Aku baik baik saja. Aku sudah tidak apa apa. Sejak ada kamu, sejak kamu datang. Sejak pertama suaramu kudengar, sejak tawa yang membuat perutku keram dibuat oleh kamu.

Aku belum berterimakasih. Meski tidak penting, tapi aku tetap mau bilang. Ada terimakasih yang ingin kusampaikan ditambah dengan rindu.
Aku rindu, rindu sekali. Kenapa buat rindu. Rasanya aku salah, tidak pernah beri tahumu tentang masalalu ku. Yang pernah sakit karena rindu hingga akhirnya berpisah.

Kamu yang membuatku sembuh, kenapa menyakitiku dengan hal yang sama ?

Apa salahnya rindu?

Malam ini panas . Hatiku mendung. Aku rindu  , rindu yang bukan waktunya.

Maaf, aku tidak tahan lagi tanpa kabarmu.  Aku ingkar janji pada hati sendiri. Janji tidak akan rindu, utamanya pada suaramu. Suara yang sering kudengar saat sedih, suara yang terdengar saat bahagia lalu dibuat makin bahagia. Aku rindu saling melihat dilayar handphone saat tidak bisa bertemu. Rutinitas setiap malam, setiap bangun tidur, juga setiap merasa rindu.

Kamu kenapa pergi? Aku mau tanya itu.
Kamu kenapa hilang? Aku harus cari kemana? Pesanku sudah 2 jam lalu terkirim. Belumkah dilihat?

"Kamu kemana?"

Belum terbaca atau memang semua sudah terbaca. Terbaca untuk berhenti.

Aku cuma rindu. Memang salah?

Rindu yang salah

Aku tahu, aku seharusnya tidak menginginkanmu. Harusnya aku memang berhenti. Berhenti untuk mencintai, berhenti untuk mengagumi termasuk berhenti untuk berkhayal memilikimu.

Kamu milik dia. Seorang perempuan yang menurutku begitu beruntung. Mungkin setiap harinya dia tertawa, seperti kamu yang sering kali membuat bibirku tersenyum melebar lebih dari biasanya.

Aku akan berhenti untuk semua itu. Tapi tidak untuk rindu. Rindu itu datang terus. Tidak bisa aku tolak. Bagaimana  caranya? Kamu tahu tidak. Sini aku lakukan, kalau memang rindu itu harusnya tidak ada.

Sekarang, kalau rindu aku hanya melihat namamu dalam kontak handphone. Tidak lebih hanya membesarkan wajahmu lalu ku pandangi.  Atau membaca chat yang setiap harinya menjadi rutinitas, yang sekarang menjadi kenangan. Kalau tidak, aku pandangi saja screen capture wajah kita berdua saat vidio call. Dipagi, siang ataupun malam. Aku menyimpannya diam diam. Karna aku tau, kamu tidak akan lama. Ada perasaan , seakan tau suatu saat mungkin tidak lagi bisa begini. Mungkin kamu  pergi. Mungkin tidak bisa lagi lihat kamu. Nanti aku pasti rindu tawamu, rindu gurauanmu.

Sekarang aku rindu. Rindu melulu. Tidak tau sampai kapan. Tapi tidak berani. Kamu milik dia.

Rabu, 04 April 2018

Rindu

Sudah cukuplama namanya tidak lagi muncul di layar handphone. Padahal, namanyalah yang sering kutunggu muncul saat handphone bergetar. Setelah nama dia, yang dulu sering kali kutunggu padahal tidak mungkin lagi. Namanyalah yang selalu buat gembira bila handphoneku bergetar.

Aku dibuat lupa tentang bagaimana sakitnya ditinggalkan. Kamu menjadi suara yang sering ditunggu telingaku. Tawa yang begitu mudahnya kamu selipkan disetiap perbincangan.

Dimana ? Bagaima kabarmu? Aku , seorang yang paham tidak punya ikatan . Mungkin memang tidak berhak menuntut kabar. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur candu.

Kamu yang mengeluarkanku dari labirin cinta masalalu yang telah usai, kenapa pergi setelah baru saja aku merasa bebas dari kenangan masalalu. Aku masih mau ditemani, masi mau dituntun. Aku belum bisa berjalan sendiri.

Kamu dimana? Aku masih merangkak, masih butuh tanganmu untuk memapah pelan pelan. Kenapa sudah ditinggal pergi, nanti aku tersesat lagi.

Untuk kamu, lelaki yang datang tiba-tiba , kalau sekarang pergi juga tiba-tiba, nanti datang lagi jangan tiba tiba ya.

Selasa, 27 Maret 2018

Tidak mau percaya lagi

Kalau kamu ingin tau, kenapa aku tidak lagi percaya yang namanya hubungan jarak jauh. Sini, duduk disanpingku. Pinjam pundakmu aku mau bercerita tapi ini berat, aku takut tidak kuat menahan kepalaku sendiri.

Jadi begini,
Sebelumnya aku pernah jatuh hati, bisa dibilang pada seorang laki laki berwajah cukup tampan, tubuhnya cukup tinggi, kalau dia senyum aku yang sedang marah bisa reda seketika. Dia laki laki yang lucu, menurutku dewasa. Kalau dia sedang bicara aku selalu fokus karna ceritanya selalu saja berhasil menarik perhatian. Sampai akhirnya, aku harus kembali kuliah saat itu. Sedangkan dia bekerja di Jakarta. Diawal kami memulai hubungan jarak jauh,  tiap hari bahkan saat dia sedang dijalan selalu menghubungi. Sering juga dia marah kalau aku lama angkat telponnya. Sampai akhirnya tiba tiba kabarnya tidak ada. 3hari, iya selama itu. Aku diamkan, tapi gelisah setiap harinya. Sampai menginjak disatu minggu, akupun menghubunginya. Dia bilang, maaf dia sibuk seminggu kemarin. Namun ternyata sibuknya bukan minggu kemarin saja, tapi minggu minggu kedepannya. Akhirnya aku putuskan berhenti. Berhenti untuk berjuang. Hubungan ini tidak sehat. Berat sekali, aku pendam sendiri. Padahal sedihnya bukan main.

Sampai akhirnya, di semester terakhir kuliah aku ikut kursus bahasa inggris. Disana bertemu seorang pria berwajah sedikit angkuh. Awalnya aku tidak suka, gayanya sombong sekali. Tapi singkat cerita, ternyata dia mau memulai obrolan dan cukup ramah. Aku yang sedang patah hati saat itu, seperti lupa dengan keadaan hati sebelumnya.  Sampai tiba di suatu hari, aku masih ingat di 21 januari 2017, kami memutuskan untuk menjalin sebuah status. Terlalu cepat memang, tapi buatku memang kalau sudah merasa cocok buat apa banyak pikir lagi. Kalau dibilang aku terlalu cepat jatuh cinta, mana buktinya? Selama kuliah di Jogja siapa yang pernah menjadi pacarku? Satupun tidak ada. Karna seringkali baru memulai aku sudah mundur. Awalnya aku kira dia lelaki yang baik. Cueknya membuat aku yakin, dia tidak seperti yang lain. Bahkan ketika tidak ada kabar sama sekali, dan sebenarnya hati merasa begitu janggal dengan kabarnya yang hanya sebatas seperti absen pagi dan malam saja. Aku tidak pernah membiarkan pikiran yang mengurangi rasa percayaku pada dia muncul begitu saja. Semua kutepis tanpa pikir pikir lagi.
Yang semua ternyata malah berujung menyerangku balik.
Kenapa aku tidak mengambil keputusan seperti sebelumnya. Mengapa bukannya lebih pintar dari sebelumnya. Aku mempercayai orang yang salah. Mempercayai orang yang sama sekali tidak bisa dipercayai. Kadang kesal kalo ingat wajahnya. Melihat fotonya sebatas di sosial mediapun kadang aku langsung tutup bila muncul. Padahal awalnya setelah semua selesai, sering sekali buka buka akunnya padahal jelas fotoku sudah dihapus.  Tapi makin kesini, makin takut. Sekarang, malah jadi lupa. Samar samar wajahnya, saking lamanya tidak pernah lihat lagi. Diapun tidak izinkan aku lihat wajahnya lagi sepertinya, akunku dihapus.  Padahal sudah ku coba perbaiki semua walaupun bukan sebagai pasangan.

Tapi sudahlah. Aku lupa. Dan tidak mau lagi hubungan jarak jauh.

Minggu, 25 Maret 2018

Aku berhenti menyebut nama dia juga kamu dalam doa.

Terimakasih sudah hadir. Menyatukan hati yang sempat berantakan menjadi kembali utuh. Meski kamu hadir begitu singkat dengan begitu banyak rahasia. Tapi aku akui, setelah begitu lama, mungkin terlalu lambat aku melupakan nama dan perasaan untuk dia. Juga dari beberapa nama yang pernah mencoba menyatukan hati yang berserakan itu, entah rasanya tidak pernah terasa jadi utuh.

Kamu yang tetiba datang. Lalu membawa tawa yang percis dia bawa saat pertama datang. Membawa kata yang rangkaiannya seperti mengajak untuk keluar dari labirin cinta yang sudah usai namu belum bertemu dengan pintu keluarnya. 

Sejak mengenalmu. Aku seperti benar benar keluar dari labirin yang begitu rumit lalu bebas dengan mudahnya. Hingga aku behenti menyebut namanya dengan dalam doa. Hingga aku berani meminta nama selain dia. Kamu, adalah nama yang kuminta. Sampai akhirnya, akupun berhenti menyebut namamu dalam doa.

Kamu, membawaku keluar dalam ruang yang rumit, tapi mengajakku pada sesuatu yang begitu abu. Kamu mengajakku pada ruangmu, tapi kamu matikan cahayanya. Aku seperti diajak melihat keindahan tapi dalam redup.

Kuputuskan untuk berhenti, karna saat kutemukan titik lampunya, ternyata aku dalam sebuah ruang milik seseorang. Ada tuan rumah yang sudah jauh lebih lama menempatinya.

Aku tamu yang kamu undang dalam ruangmu, ruang yang sudah berpenghuni. Aku mau pulang saja, sebelum diusir sebagai tamu tak diundang.

Terimakasih.
Aku berhenti menyebut namanya dalam doa.


Juga kamu.

Sabtu, 17 Maret 2018

Aku mau seperti kamu

Bagaimana bisa seperti kamu, melupakan lalu bahagia.
Andai kamu tahu, tawaku ini kepalsuan. Senyumku siasat untuk menutupi kesedihan.
Berdiriku sekarang, menopang banyak kekecewaan , yang begitu memberatkan.

Aku mau seperti kamu. Pergi semakin jauh, tanpa menengok kebelakang. Akupun ingin begitu, pergi tanpa terus teringat yang lalu lalu.

Aku sudah berulang kali mencoba membuka hati, namun segala yang manis itu justru mengingatkan kepadamu.

Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada yang lain, sedang hatiku masih kuat untukmu.
Bagaimaba aku bisa menerima cinta yang baru, sedang cintaku masih saja kamu.

Kamu pergi begitu jauh, tidak mungkin lagi kembali. Akupun tau itu. Tapi hati ini terasa selalu berharap, meski sudah ku kubur, selalu saja kembali terbuka padahal harapannya sudah tertutup.

Kamis, 15 Maret 2018

Wajahnya kulupa , kenangannya begitu pekat

Masih tersimpan bayangannya, bayangan yang masih sangat begitu jelas. Bayangan dari cinta yang sebelumnya begitu penting. Entah sepenting apa hingga membuat begini.

Harus sesakit inikah jatuh cinta yang kemarin? Cinta yang sudah tidak lagi ada sejak saat itu, atau mungkin memang yang sebenarnya tidak pernah ada. 

Pernah aku berfikir untuk terus bertahan, namun tidak mampu aku mengikutinya. Ia semakin jauh dan tidak mampu untuk kukejar lagi.

Sesakit ini kah ?
Aku bertanya lagi. Pada rindu yang tidak diobati .
Sesakit inikah?
Pada kenangan yang selalu muncul setiap harinya?
Sesakit inikah?
Pada setiap kata kata yang pernah kudengar begitu membahagiakannya yang seketika seperti sebuah angin lalu.

Aku harus bagaimana? Ingin sekali melupakan dia yang jelas tidak tau lagi kabarnya. Dia yang sudah jelas bahagia dengan pilihannya. Dia yang sudah jauh pergi dan tidak mungkin lagi ada .

Dimana lagi aku menemu kenyamanan seperti waktu itu? Dimana lagi aku temui cerita yang indahnya sama ?

Aku ingin lupa. Seperti dia yang mudah melupakanku.
Aku sudah mengiklaskan, hanya saja belum melupakan. Mengapa begitu sulit untuk lupa, padahal tidak lagi ada jalan untuk bertemu, kabarnyapun sama sekali tidak tahu. Wajahnya saja sudah samar samar untuk ku ingat, tapi kenapa kenangannya masih begitu pekat.

Doaku, semoga dia bahagia selalu.
Begitu juga ku ingin, aku bahagia selalu. Tanpa dia, yang sudah pergi begitu jauh.

Rabu, 14 Maret 2018

Melupakan itu tidak sebentar

Melupakan itu tidak sebentar, melupakan itu tidak semudah menutup ruang yang kosong. Dikunci lalu tidak terbuka lagi.

Melupakan itu, meski kadang sudah dicoba tutup kuat kuat, masih saja akan teringat bahkan kadang semakin pekat.

Melupakan itu tidak sebentar, malah bisa jauh lebih lama dari mengenal. Lebih lama dari bersama, lebih lama dari yang pernah terasa manisnya.

Melupakan itu tidak sebentar. Meski sudah ada yang mengisi memori baru, yang lama tidak terhapus begitu saja.

Melupakan itu bukan butuh tenaga, tapi butuh keiklasan. Keiklasan yang tidak cukup diwaktu yang sebentar.

Maka itu, melupakan tidak sebentar. Bukan berarti belum terima kenyataan. Tapi kembali lagi, melupakan itu tidak sebentar.

Aku ingin melupakan , melupakan yang katanya butuh waktu lama. Tapi aku tetap ingin melupakan. Entah tidak sebentar itu, tidak tau sampai kapan.

Sabtu, 10 Maret 2018

Bodoh

Hampir saja kulanggar sumpah yang ku ucapkan hampir disetiap malam sebelum tidur. Rindu, menjadi alasan yang membuat aku hampir mematahkan tiang baru yang ku susun satu persatu.
Sebuah pertemuan untuk sebuah jawaban yang ingin ku dengar sendiri, menjadi jadi dimalam terakhirku dikota ini. Bagaimana bisa, tiba tiba berpikir untuk bertemu.
Kau ingin hancurkan hatimu sendiri? Mau hancurkan lagi apa yang selama ini kau bangun ulang? .

Sardarlah.
Kenapa kembali bermimpi. Tidakkah cukup mimpi kemarin menjadikan hatimu jadi keping keping. Mimpi yang terlalu kau percaya, lalu mengacaukan segalanya.

Sudahlah.
Buka hati untuk yang jelas jelas mengetuk ngetuk membawa sesuatu yang baru. Mau sampai kapan pura pura tidak dengar? Mau sampai kapan diam didalam, tidak semua tamu menyakitkan seperti yang sudah sudah.

Ia sudah pergi. Sangat begitu jelas perginya. Tidak lagi rindu yang dia punya untukmu, tidak ada lagi kenangan yang masih dikenang tentang kamu.

Harus berapakali menyadarkan diri sendiri.

Rabu, 07 Maret 2018

Kamu tidak perlu tahu

Kamu tidak akan pernah mengerti, beratnya merindukan seseorang yang harusnya tidak lagi dirundakan. Kamu tidak akan pernah tau, berapa sulitnya aku melupakan perasaan yang sudah terlalu dalam kusimpan dalam hati. Kamu tidak akan pernah tau, aku yang dilepas begitu saja ketika sedang butuh butuhnya digenggam.

Haruskah aku ceritakan semua itu padamu. Tentang aku yang pernah mencintai seseorang yang tidak pernah mencintaiku?
Perlukah kamu tahu, aku pernah ditinggal dengan alasan yang begitu klasik. Aku ditinggal atas nama kebahagiaanku, padahal saat itu justru aku lebih bahagia ketiaka ia tetap ada. Aku begitu hancur saat itu, tapi tidak punya kuasa untuk menahan pergi.

Kurasa kamu tidak perlu tahu itu semua. Kamu hanya perlu tahu, aku pernah susah payah untuk kembali seperti sekarang. Pertanyaan itu mungkin sebuah kewajaran, tapi terlalu rumit untuk kembali kuceritakan .

Selasa, 06 Maret 2018

Nightmare

Minggu ini masuk kerja cuma 1 hari. Entah, kenapa pas masuk kerja penyakit penyakit yang kirain ga bakal kena ke gue tau tau malah jadi langganan. Haha disangka badan kebal kali ya. Asem lambung yang sering tinggi, bikin gue sering mual malah muntah tiba tiba, udah ga bisa lagi yang namanya kena soda. Dan sekarang badan ambruk, masuk cuma hari rabu aja. Pit, pit belum junior rasa manajer kali ya haha.

Pagi di hari kedua gue sakit, badan ga enak sampe mimpi buruk. Nama seseorang yang udah lama ga gue lihat apa lagi sebut , tiba tiba gue sebut sampai dibangunin mama. Gue ga mikirin orang itu sama sekali ko. Udah cukup lama rasanya gue ga pernah lagi inget, sejak gue sadar kalau gue udah bener bener dihapus dari hidup orang itu.

Sakit banget rasanya mimpi kaya gitu. Dimimpi itu, semuanya kaya keputer lagi. Dimimpi itu, gue masih jalin hubungan sama dia, gue chat dia tapi jarang banget dibales, gue nunggu terus menerus kabar dia, tapi dia ga pernah kasih kabar walaupun cuma sekedar kasih tau dia lagi apa. Dia selalu chat di jam 8 malam dan hanya untuk izin mau tidur. Gue nangis, gue pengen protes tapi gue ga berani. Karna gue tau, dia udah ga sayang sama gue, nanti kalo gue protes gue takut malah dia mutusin gue. Dimimpi itu rasanya gue kangen banget tapi ga bisa apa apa. Rasanya sesek banget, mungkin karna itu gue sampe ngelindur nyebut nyebut nama itu. Gue bangun, agak sedikit sedih, karna rasa sakit itu kaya muncul lagi.

Tapi gue ga mau nurutin rasa sedih kaya gitu. Itu cuma mimpi . Dan gue ga akan ngerasain itu lagi. Cukup satu kali aja. Cukup jadi pengingat, jangan mudah percaya sama kata kata seseorang sama kita, jangan berharap karna sebuah harapan kadang benih yang nantinya tumbuh jadi sebuah kekecewaan. Jangan terlalu tulus sayang terlalu dalam sampai kita ga bisa pergi saat tau itu semua ga sehat, saat kita tau dia bukan lah yang biasa kita kenal.

Minggu, 25 Februari 2018

Semester 5

Jadi tuj udah jam 10:42 pm. Baru aja mau taro hp dikolong kasur, karna kalau ditaro dikasur itu pasti akan terlempar jauh. Gue, 22 tahun . Tidur masih muter sana sini, dan masih sering jatoh, padahal kasur bisa dibilang cukup luas.
Tapi tiba tiba *dreeett dreett* (bunyi hp).

Seorang laki-laki, yang pernah jadi idola gue disemester 5. Sampai gue pernah berikrar "bakal beli helm kalo jadian sama dia". Gue juga gatau apa maksud dan tujuan gue berikrar kaya gitu.

"Fit, apa kabar?"

Tiba tiba ngantuk ilang. Seketika ingat, pertama kali dia dm di ig, chat terus berkelanjutan tukar kontak line sama bbm. Dia selalu sms di jm 8 malem. Gue apal banget, selalu tepat di jam 8. Sampai gue pernah ajak dia ngumpul juga bareng temen tongkrongan. Dia nanya gue dimana, ya gue jawab lagi nongkrong sama anak anak, terus gue suruh nyusul deh haha. Eh dia mau.
Pas pulang, gue bareng dia. Asli, dijalan keringet dingin. Gatau mau ngobrol apa.

"Fit, ko diem"
"Grogi" jawaban bodoh ya.
"Tanya aku dong"
"Kos kamu dimana?"
"Di apartment "
"Oh gitu"
"Ko kamu percaya si pit"

Entahlah obrolan macam apa itu. Sampai akhirnya berenti depan kos dan kosan gue udah di kunci.

Nice. Harus kah gua manjat depan muka orang yang gua taksir?

"Kamu pergi sana"
"Ya kamu masuk dulu pit"
"Ih sana"
"Ih pergi" panik
"Kenapa si"
"Kalo kamu ga pergi, aku ga masuk kosan ni"
"Yaudah aku pergi ya"
"Iya hati hati" sumpah lega rasanya, ga jadi nahan malu.

Bales apa ni ya dm dia barusan,
Akhirnya gue bales
"Kabar baik dong"

Rasanya pengen nanya, bener ga sih dia tuh dulu berenti karna segan. Gue pengen nanya "kamu segan sama aku? Orang kaya aku kamu seganin? "

Iya , dia pernah cerita ketemen cowo gue yang juga temen dia. Dia bilang, dia segan buat deketin gue. Yaampun pengen gue jejelin lilin mulutnya. Alesannya ga oke ah.

Tapi ga ah. Gamau nanya itu. Toh rasa buat dia juga udah ga ada. Ga ada lagi gue yang mandangin foto hasil candid waktu kita duduk bareng, ga da alagi gue yang tiap malem cengar cengir baca chat dia, ga ada lagi gue yang kesel kalo liat dia update di path sama cewe, ga ada lagi gue yang cengar cengir sendirian kalo dia ngegombal garing.

Re, tetap jaga lawakan kamu yang garing tapi selalu bikin aku ketawa ujung ujungnya. 

Ini kita dm dm'an terakhir kapan si? Udah bisa dihitung tahunan kayanya.

Sabtu, 24 Februari 2018

?

Untuk apa kau datang lagi? Setelah aku berjuang sendiri untuk lupa. Kau datang lagi, ketika hati aku tidak ada lagi namamu. Namun deburan ombak disenja itu hingga sunrise di pagi hari masih jelas teringat satu persatu. Termasuk dadamu yang pernah ku tarus kepalaku disana.
Nyaman. Masih terasa sampai sekarang. Meski tanpa bicara, namun seperti saling mengerti. Kita yang tidak bisa bersatu.
Aku belum berterimakasih untuk indahnya saat itu. Duduk berdua tampa apapun untuk menghangatkan, hanya sebuah dada yang di gelar dengan hidangan kenyamanan. Lalu melihat deburan ombak sampai pagi datang.

Ada apa?
Adakah yang ingin disampaikan? Karna sejak saat itu tidak ada lagi kita yang berbincang. Kamu masih menjadi misteri untukku sampai sekarang. Rasanya tidak ada perbincangan apapun, hanya duduk kemudian saling diam. Tapi lalu kau pergi tanpa sepotong kata.

Adakah yang ingin disampaikan?
Bagaimana kabar dia? Sampaikan terimakasih, karna meminjamkanmu untuk 30 hari.

Rabu, 21 Februari 2018

Pernah ga si, kenal sama seseorang dan untuk satu hari aja. Tapi pertemuan itu berkesan, dan saat kembali ke kehidupannya masing masing , diantara kalian saling berharap semoga bisa ketemu lagi. Sampai itu terucap langsung .

Gue baru ngerasain itu kemarin. Waktu lagi wawancara di salah satu instansi milik negara. Gue ketemu sama seorang cowo, yang perawakannya tinggi, hitam manis, pakai kacamata hitam. Asli itu keren banget. Nah kan salah jurusan pembahasannya.

Kita duduk sebelahan disatu bangku kecil. Udah kaya orang kenal cukup lama aja. Ngobrol ini itu, ngantri sana sini depan belakangan, sampai duduk saat ice breaking ternyata kita sebelahan juga. Alhasil walhasil ya kita ngobrol lagi.

'Fit, kamu lulusan mana?'
'Jogja jar, upn, lo mana?'
'Aku semarang, tinggal kg semarang'

Ng........ pantes ngomongnya aku kamu. Akhirnya gue pun ikutan aku kamu.

'Kamu niat banget, dari semarang ke bogor, tinggalnya dimana sekarang?'
'Ya namanya cari kerja pit, aku tinggal di perumahan warga pit'
'Oya? Dimana? Rumah nene aku persis depan kantor ini jar'
'Yh tau gitu kita kenalan dari kemaren ya pit, kan aku bisa di nene kamu hahhaa'
Ya kurang cepat kita kenalannya hahha'

Sampai akhirnya kita dipisahin. Karna dia ambil pustakawan dan gue ambil pengelolaan keuangan.

Bersambung===========

Jumat, 16 Februari 2018

Mungkin nanti saja

Aku pernah mencintai seseorang dengan baik. Apapun itu yang dibuatnya terlihat begitu indah. Meskipun itu kadang terasa sakit, tetap saja kuliahat sebagai sesuatu yang indah.
Hingga aku dibawa oleh perpisahan, yang menuntunku pada sebuah kesadaran. Bahwa apa yang kunanti adalah sesuatu yang tidak akan kunjung datang.

Kini aku dikabuti oleh ragu.
Keraguan menyelimutiku sepekat embun pagi. Aku dingin dibuatnya.
Aku dingin pada setiap yang datang untuk menghangatkan.
Entah sampai kapan aku dihalagi sebuah keraguan. Keraguan yang besar yang masih saja pekat sampai hari ini.

Ada rasa seperti ingin membangun percaya yang pernah dibuat ambruk. Tapi selalu saja hancur, karna belum kokoh sudah diterpa pahitnya masalalu.

Aku masih bimbang. Artinya tentu belum cinta. Masih tidak tau mau kemana, artinya belumlah utuh kalau masih menjadi sebuah pilihan.

Mungkin nanti, jika ada yang kurasa hanya satu. Bukan lagi harus memilih diantara siapa.

But you don't see me

Gue gak tau kenapa otak ini lemah banget buat yang namanya ngapal jalan ditempat baru. Gue pernah nyasar dijalan pulang kantor, jalan keluar kampus, dan gue pernah nyasar dalem kosan gua sendiri.
Kalo temen gue bilang si, otak gue ga ada memori buat nyimpen ingatan jalan. Tapi guebga marah, bener kayanya yang dibilang tuh.

Dan sampai suatu pagi, gue ke pantry. Biasanya jalan yang gue lewatin kalo kepantry itu dari meja gue terus lurus dikit,belok kanan lewat loker nah langsung sampai pantry.  Cuma entah apa yang gue pikirin, pas dari pantry,berhubung air di pantry habis, gue masuk langsung keruang kerja, tapi ga lewatin jalan yang biasanya gue lewatin .
Gue langsung masuk dari pintu yang langusung tembus keruangan, cuma jauh bangey kemeja gue. Karna gue udah terlanjur masuk dan pintu itu tuh deket banget sama meja si Abang, gak mungkin dong gue keluar lagi. Nanti disangkanya gue ngehindarin. Gue dilema banget asli, kalo gue lanjutin jalan, gue nanti muter muter nyasar kan pasti diliatin orang. Secara dari pintu itu ke meja gue tu ngelewatin bagian hubungan internasional, ngelewatin A-team, brand support, masih adalagi ngelewatin emerald, terus premium barulah bisa sampe ke meja gue. Sampai akhirnya, baru di bagian hubungan internasional gue berenti, iya itu bagiannya si Abang. Berhunung gue bawq botol minum, sambil mikirin jalan mana yang gue lewatin biar ngga nyasar, gue berenti di dispenser bagian hubungan internasional. Dan taraaaaaaaaaaaaa pas gue nengok samping, tempat gue berdiri tepat disamping meja Abang. Alhasil walhasil gue kembali dilema antara nyapa atau pura pura ga liat. Dan gue malah ngeliat dan ga nyapa. Dengan so coolnya gue ngambil minum dan tanpa sadar ngeliatin Abang kerja sampai ternyata Abang sadar dengan keberadaan gue, tapi ga disapa masa. Dia cuma nengok terus yaudah lanjut kerja lagi.

Bang, inget ga waktu pertama kita kenal. Abang ramah banget, kita berdua direst room . Abang ngenalin diri ke aku, terus nanya banyak hal.
Abang inget ga. Waktu itu jam 8 aku belum pulang, abang duduk nungguin aku di meja satpam. Terus abis itu pulang, abang nanya,

"Kamu punya pacar?"
Dengan semangatnya aku bilang
"Ngga bang" tanpa sadar muka aku bahagia banget, seolah ada harapan besar gitu untuk pertanyaan itu hahhahahahaha

"Rumah kamu dimana?"
"Cisauk, abang dimana?"
"Abang ngontrak"
"Oh abang ngontrak, deket sini ya bang ?"
"Iya, deket sini ko"
Sambil jalan, abang bilang lagi,
"Eh iya, sampai ketemu seminggu lagi ya"
"Lho abang mau kemana?"
"Abang mau kebandung seminggu"
"Yahh.."
"Kamu bilang apa?"
"Ngga bang"

Dan ternyata benar, abang seminggu ga dikantor. Sedih deh. Eh ko sedih.

Sejak itu, kita selalu saling sapa , tapi selalu abang duluan ya bang yang nyapa. Inget ga bang waktu kita papasan dilift?
Itu abang ganteng banget. Eh ko ganteng si hahhaha. Aku seneng banget abang nyapa, sampe kita jalan bareng ya bang di lantai 10
"Kamu ko kesini sih , ngapain? "
"Aku mau absen"
"Kamu disini kerjanya?"
"Ngga bang, aku di lantai 11 juga, sama kaya abang"
"Ko jauh si absennya, kasian kan. Tapi kamu bener kan kamu dilantai 11 ga di 10"
"Iya bang, aku ke lantai 11 ya bang "

Hahahha ko aku izin segala ya. Emang aku siapa.
Terus yang kedua kita pernah satu lift, kita ngobrol ke asikan, eh temen abang ngejauh.
"Ih kalian pacaran di lift hmm"
Kita ketawa tawa malu gitu berdua , dalem hati aku sih aamiin bang hahhaa. Becanda. Tapi kalo dikabulin si gapapa.

Kita sering banget papasan , entah karna mau absen, lagi ke toilet, di lift atau aku nabrak abang.
Abang bosen ga si bang sering di tabrak aku, dan selalu bilang
"Main hp muluuuuuuuu"
Hahahahaha kalo ga main hp ga nabrak dong. Tapi aku ga sengaja tau nabraknya tuh.

Part paling lucu menurut aku adalah waktu aku abis ambil wudhu dan abang baru balik dari toilet

"Kamu kok kayanya cape banget, sampe keringetan gitu"
Bang bang -_- itu air wudhu . Tapi aku blo'on juga si, malah jawab,
"Iya ni bang hehe"
Berartikan aku mengiyakan kalo air dimuka aku tuh bukan air wudhu tapi kucuran keringet ya hahhaa.

Tapi sekarang udah ga pernah lagi ya bang ngobrol.
Cuma sebatas "hy"
Dan aku yang lebih sering nunduk atau berusaha pura pura ga liat kalo ada abang.

Aku rasa takut, mau taro harapan lebih. Pelan-pelan aku buang perasaan yang menurut aku belum terlanjur jauh.

Tapi aku kangen , kangen sapaan abang. Kangen ngobrol lagi sama abang. Kangen ditanya lagi sama abang.

Apa aku harus ke pantry terus ngambil air dispenser disamping meja abang lagi. 😋

Kamis, 15 Februari 2018

My favorite smile

Untuk kamu yang memiliki senyum melebihi manisnya coklat favoriteku. Terimakasih untuk menjadi seorang yang ikut andil dalam bahagia di hari istimewa itu. Terimakasih untuk sepotong roti yang kau bawa hati-hati agar lilinnya tidak padam. Lilinnya yang kau bakar, tapi berkobarnya disini, didalam hati ini. Susah sekali menutupi semua agar bisa terlihat biasa saja. Egoku memang tinggi, muka dua sekali . Padahal senangnya bukan kepalang.

Sore ini, aku lagi- lagi bersandiwara. Seakan tidak perduli dengan senyum yang selalu berhasil dihidangkan begitu manisnya.  Padahal terbayangnya terbawa sampai mau tidur.

Aku hanya takut.
Takut untuk kembali memulai.
Aku hanya resah,
Resah kalau akhirnya nanti harus kecewa.
Aku hanya tidak mau mematahkan lagi, hati yang sudah mulai utuh, yang sebelumnya sempat patah karna salah jatuh.

Untuk kamu,
Tahukah kamu bahwa aku hanya sedang berpura-pura?

Jangan pergi,
Beri aku sedikit lagi waktu. Untuk berani tidak bersandiwara lagi.

Jumat, 09 Februari 2018

P_indah

Sejak pertama peresmian sesuatu yang sudah usai itu, kita tidak pernah lagi saling mengirim pesan. Padahal kabarmu adalah rengekanku tiap harinya. Dulu, sebelum aku dipaksa berhenti merengek untuk sebuah pertemuan. Rindu yang sering ku gelar lebar, tapi tidak pernah kamu hiraukan, malah kamu lipat lipat. Jangan rindu, lemah katamu .

Aku sadar, untuk sebuah yang indah, aku harus pindah. Mulai sekarang tidak adalagi aku yang merencanakan sebuah pertemuan. Tidak ada lagi, waktuku untuk sebuah rencana itu .

Aku berhenti merengek untuk sebuah pertemuan. Yang paling utama, aku berhenti menginginkanmu.

Kamu orang asing yang  begitu baik, sampai aku lupa kamu bukan milikku. Kamu tetaplah orang asing dan aku harus pindah, memberi jarak untuk sesuatu yang jauh lebih indah dan menetap lama.

Selasa, 06 Februari 2018

Rasanya marah. Mau maki maki kenyataan. Mau protes sama apa yang ada. Mau hard complaint sama apa yang udah terjadi.
Tapi bisa apa. Semuanya cuma bisa ditelen bulet bulet. Jengkel, dongkol , marah, kecewa semua ada tapi ga bisa dilampiasin .
Rasa pasrah emang yang sekarang ini cuma dijalanin
"Yaudah, mau gimana lagi, ini kenyataannya. Bisa apa gue" . Tapi dalem hati ini tuh masih ada kecewa yang besar banget, kecewa yang timbul karna emang sebuah kepercayaan yang besar sama seseorang yang ternyata ga sesuai kenyataannya. Dihianatin sama orang yang begitu ko percaya.
Marah itu belum ilang, kecewa itu masih besar banget. Tapi ga bisa apa apa, lo gabisa maki maki dia, lo ga bisa tabok itu mulutnya yang ngeluarin kata kata palsu yang ga ada buktinya.

Gue ga bisa apa apa. Gue ga dapet apa apa, sekalipun itu sebuah klarifikasi. Gue harus meniadakan sesuatu yang tadinya ada dan itu harus hilang tanpa gue dikasih kesempatan buat sesuatu yang jelas.
Entah sampai kapan semua ini reda.
Cape. Berulang kali udah paksa diri buat terima semua yang ada, tapi kecewanya ga mau ilang, marahnya makin besar , ada benci yang masih kesimpen rapi didalem semua itu.

Sabtu, 20 Januari 2018

21 januari

Tidurku semalam sedikit gelisah.
Aku terbangun, kemudian memejamkan mata lagi. Tiba ada bayangmu yang lama aku tolak untuk muncul. Aku putuskan untuk kembali tidur lagi.

Sampai dipagi hari, aku masih kesal terbangun semalam. Ku lihat tanggal di hp ku. Ah sial.
Hari ini, adalah tepat setahun lalu aku mempunyai hubungan yang kini menjadi sesuatu yang begitu kusesali. Bodohnya aku merasa begitu bahagia dihari itu.

Semua berubah begitu cepat seperti daun. Hijau muda, kemudian menjadi hijau tua dan tak lama copot dari batang pohonnya, setelah itu menguning dan kemudian coklat yang kemudian hancur menyatu lagi dengan tanah.

Seperti aku dan hubungan yang dimulai setahun lalu. Semua berubah begitu cepatnya, sampai tiba dihari ini. Semua yang terjadi ditepat setahun lalu, sudah kembali seperti semula. Aku dan dia kembali menjadi dua orang yang saling tak mengenal, tidak ada apa apa diantara kita.

Kamu, setahun yang lalu. Adalah penyesalan yang datang terlalu cepat.

Rabu, 17 Januari 2018

Sisa masalalu

Aku adalah sisa dari masalalu yang indah.
Yang ditinggalkan pemainnya tanpa diberi aba-aba.
Tanpa dilatih untuk berdiri sendiri.
Aku adalah sisa dari masalalu, yang kembali belajar berjalan.
Saat sebelumnya baru bisa ditatih, lalu ditinggal pergi kemudian jatuh tanpa dibangunkan lagi.
Aku adalah sisa masalalu yang belajar merangkak, agar saat nanti bisa berdiri sudah benar benar kokoh.
Agar kakiku mampu berdiri tanpa harus beriringan.
Agar saat yang mengiringi langkahku tiba tiba pergi seenaknya lagi, aku tetap mampu berdiri.
Agar tak jatuh lagi, agar tidak luka lagi.

Namun, bukan untuk bersiap ditinggalkan.
Hanya belajar menjadi sisa masalalu yang lebih kuat.

Sabtu, 13 Januari 2018

Tidak pasti

Bagaimana cara melupakan?
Aduh, pertanyaan yang rumit . Banyak yang punya cara untuk melupakan. Banyak petuah petuah tentang cara melupakan. Namun melupakan bukanlah hal semudah itu.
Ada yang namanya kenangan yang muncul dengan seenaknya. Bukan ketika sedang sendiri, bahkan di sebuah keramaianpun muncul dengan mudahnya dalam ingatan.

Kalau kau tanya padaku bagaimana aku melupakan. Aku juga tidak tahu pastinya.

Terbiasa.
Terbiasa menahan rindu, terbiasa melihat kenangan yang seenaknya muncul, terbiasa menahan kecewa yang sesekali muncul jika terngiang kata pernah disyairkan begitu merdunya.

Lewat hari, lewat bulan, hingga berganti tahun. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku benar benar lupa. Yang aku tahu, ketika ada yang menyebut nama itu, hati ini sudah tidak perih lagi. Pun jg ketika kenangan yang tetiba datang menyapa dengan selewatan angin, sudah tidak ada lagi rindu yang ikut jalan beriringan. Entah kemana rindu yang biasa ada. Mungkin rindu itu lelah karna tidak pernah disapa oleh keduanya.

Bersabar. Mungkin jawaban atas pertanyaan dikalimat pertama adalah itu.
Untuk kamu yang sedang melupakan, semoga cepat terbiasa dan ada yang lebih baik segera menyapa. Agar kehilangan adalah keberuntungan.

Salamku untuk kamu dan aku yang sedang mencoba terbiasa.

Jumat, 12 Januari 2018

Keliru

Aku selama ini salah. Sangat salah meragukan Tuhan. Aku begitu takut akan kehilangan, selalu meratapi kepergian. Padahal posisiku bukanlah posisi yang salah dari kepergian itu. Aku bukan dipihak yang salah. Namun masih saja aku bersedu dengan sebuah kepergian itu.

Harusnya aku tak meragukan-Nya. Aku takut akan kepergian, tanpa berfikir akan ada ganti yang jauh lebih baik. Aku khawatir, bagaimana nanti aku kedepannya. Padahal sebelumnyapun tanpa dia aku jauh lebih bahagia. Aku takut ditinggalkan dan tidak mendapatkan yang seperti dia, padahal sebelumnya akupun pernah melepaskan yang jauh baik dari dia dan aku bisa.

Aku sadar sekarang. Kepergian itu adalah pengingat untuk berhenti. Dia tidak baik. Dia tidak benar benar mencintai, setianya tidak pantas untuk diukur dalam sebuah jalinan. Apa yang ingin aku perjuangkan? Untuk seorang yang tidak punya kepastian.

Iya. Aku salah.
Aku meragukan-Mu.

😉

Buat menutup mulut manusia manusia yang jenisnya suka merendahkan orang tanpa mengukur kemampuannya itu bukan dengan omongan . Gue lebih suka jawab dengan kenyataan. Asik kan tuh haha.
Gue itu orangnya mageran banget. Kalo udah mager, itu ga bisa diganggu gugat. Dan termasuk mager untuk jawab statements dari manusia jenis yg gue sebut diatas. Kadang ni ya, mereka ngomong, walaupun topiknya bukan perihal itu, gue tetep mager buat jawabnya. Terlebih kalo mereka nyepelein orang lain ataupun ya nyepelein gue. Dongkol, gondok tentu ada. Tapi tuh gue mager buat ngelayanin. Ditambah lagi mulut gue kalo udah ngebuka bisa ngeluarin kata kata luar biasa . Yaaa.. i think you know what i mind . Kasarlah intinya. Gue cuma ga mau melukai hati orang aja, bukan karna ga tega tapi karna hmm buat apa coy. Nambahin dosa gua aja. Itulah yang buat mager. Saking magernya tu oraang bacot apaan ke , bodo amat. Paling banter gue ngelirik sambil dalam hati "aduh si bodoh ini berulah kali lah" *nada keras* hhahaha apa si.
Tapi serius. Gue mager buat buka mulut. Yaaa kasarannyag begini, lo mau bacot segede apapun terserah, kita buktiin aja nyatanya gimana.
Dan kenyataannya? Terbuktikan, waktu anda habis buat menilai orang ketika saya menghabiskan waktu untuk memperbaiki yang masih salah.

So... stop comparing me with u. You can see... who i'm

Sabtu, 06 Januari 2018

Kepada kamu yang membuat rasa itu ada lagi

Kepada kamu yang temunya membuatku candu. Sabtu dan mingguku menjadi merindukan senin, yang banyak tak dinanti oleh mereka yang butuh liburan. Aku yang justru ingin senin segera datang, yang rela kembali bersatu dengan tuntutan tanggung jawab , yang penting bisa bertemu kamu yang selalu menjadi candu yang tidak usai usai.

Sejak aku jatuh karena harapan yang dibawa pergi dan lupa tidak dipulangkan, namun juga ditaruh sembarangan. Aku lupa bagaimana rasanya menanti sebuah pertemuan. Karena pertemuan yang lama aku nanti nantikan justru harus aku kubur dalam dalam karna sampai tuapun tidak akan pernah terjadi.

Sekarang, sejak ada kamu yang baru datang, namun selalu membuat candu untuk bertemu. Aku sudah mempunyai harapan, jangan kau pinjam harapan itu tanpa dikembalikan. Jika ingin pakai, pakailah berdua dengan mengajak aku didalamnya. Karena aku, tidak mau lagi merasaka kehilangan dari harapan yang dibawa pergi dan tidak dikembalikan.

Selasa, 02 Januari 2018

Aku bingung

Aku ini bagaimana. Aku ini seperti air diatas daun talas. Tak menentu arahnya.
Aku ini bilang iklas, tapi menangis. Aku bilang sudah tidak apa apa, tapi masih sering sendu.

Aku ini bagaimana.
Sudah lupa, tapi masih hafal jelas awal hingga akhirnya. Aku ini sudah tidak perduli, tapi masih ingin tahu ada apa sebenarnya.

Aku ini bagaimana. Aku ini mau sampai kapan begini. Berada diantara ia dan tidak. Berada antara melupakan namun masih suka mengenang. Membenci tapi masih merindu. Aku ini sudah tidak cinta tapi mengapa terlalu banyak tapinya.

Senin, 01 Januari 2018

Let me to know

Jatuh hatiku yang harus benar benar terasa jatuhnya kurasa sudah mulai kering lukanya. Meskipun begitu lambat, aku mulai paham untuk segala yang indah itu adalah masalalu. Sesuatu yang sudah dilewati dan hanya akan tetap dibelakang pun tidak akan lagi datang apalagi beserta palakonnya.

Semua karena ketidak tahuan. Ketidak tahuanku dalam membaca sebuah kebahagian. Aku terlanjur larut dalam definisi bagagia dan menjerumuskan pada sebuah pengharapan. Pengharapan yang justru merapuhkan hatiku sendiri, ketika semua tidak sesuai dengan apa yang menjadi kenyataannya.

Kenyataannya, semua bahagia itu adalah hal asing yang aku tidak tahu asalnya. Entahlah, bahagia itu berasal dari sebuah kesepian seseorang hingga dia membutuhkanku untuk menemukan bahagianya dan bisa mudahnya hilang ketika sebuah jarak harus ada diantarnya keduanya. Atau bahagia yang ada karena hati yang lama kosong sehingga butuh seorang penghuni, namun akan dipersilahkan pergi ketika penghuninya tidak bisa untuk selalu ada untuk setiap harinya. Atau bahagia yang berasal dari hal lain dan aku tidak tahu itu.

Aku bahagia saat itu, namu tidak tahu dari mana . Aku hanya tahu dengan siapa aku bahagia, tanpa tau mengapa dia buat kebahagiaan itu untukku.

Jika nanti ada seorang yang baru datang kembali membawa seperangkat kebahagiaan. Izin kan aku untuk tau, alasan sebuah pemberian definisi bahagia itu . Agar aku tidak lagi salah menaruh sebuah harapan. Agar tidak jatuh hati, yang begitu sakit ketika benar benar jatuh.