Sabtu, 20 Januari 2018

21 januari

Tidurku semalam sedikit gelisah.
Aku terbangun, kemudian memejamkan mata lagi. Tiba ada bayangmu yang lama aku tolak untuk muncul. Aku putuskan untuk kembali tidur lagi.

Sampai dipagi hari, aku masih kesal terbangun semalam. Ku lihat tanggal di hp ku. Ah sial.
Hari ini, adalah tepat setahun lalu aku mempunyai hubungan yang kini menjadi sesuatu yang begitu kusesali. Bodohnya aku merasa begitu bahagia dihari itu.

Semua berubah begitu cepat seperti daun. Hijau muda, kemudian menjadi hijau tua dan tak lama copot dari batang pohonnya, setelah itu menguning dan kemudian coklat yang kemudian hancur menyatu lagi dengan tanah.

Seperti aku dan hubungan yang dimulai setahun lalu. Semua berubah begitu cepatnya, sampai tiba dihari ini. Semua yang terjadi ditepat setahun lalu, sudah kembali seperti semula. Aku dan dia kembali menjadi dua orang yang saling tak mengenal, tidak ada apa apa diantara kita.

Kamu, setahun yang lalu. Adalah penyesalan yang datang terlalu cepat.

Rabu, 17 Januari 2018

Sisa masalalu

Aku adalah sisa dari masalalu yang indah.
Yang ditinggalkan pemainnya tanpa diberi aba-aba.
Tanpa dilatih untuk berdiri sendiri.
Aku adalah sisa dari masalalu, yang kembali belajar berjalan.
Saat sebelumnya baru bisa ditatih, lalu ditinggal pergi kemudian jatuh tanpa dibangunkan lagi.
Aku adalah sisa masalalu yang belajar merangkak, agar saat nanti bisa berdiri sudah benar benar kokoh.
Agar kakiku mampu berdiri tanpa harus beriringan.
Agar saat yang mengiringi langkahku tiba tiba pergi seenaknya lagi, aku tetap mampu berdiri.
Agar tak jatuh lagi, agar tidak luka lagi.

Namun, bukan untuk bersiap ditinggalkan.
Hanya belajar menjadi sisa masalalu yang lebih kuat.

Sabtu, 13 Januari 2018

Tidak pasti

Bagaimana cara melupakan?
Aduh, pertanyaan yang rumit . Banyak yang punya cara untuk melupakan. Banyak petuah petuah tentang cara melupakan. Namun melupakan bukanlah hal semudah itu.
Ada yang namanya kenangan yang muncul dengan seenaknya. Bukan ketika sedang sendiri, bahkan di sebuah keramaianpun muncul dengan mudahnya dalam ingatan.

Kalau kau tanya padaku bagaimana aku melupakan. Aku juga tidak tahu pastinya.

Terbiasa.
Terbiasa menahan rindu, terbiasa melihat kenangan yang seenaknya muncul, terbiasa menahan kecewa yang sesekali muncul jika terngiang kata pernah disyairkan begitu merdunya.

Lewat hari, lewat bulan, hingga berganti tahun. Aku tidak tahu kapan tepatnya aku benar benar lupa. Yang aku tahu, ketika ada yang menyebut nama itu, hati ini sudah tidak perih lagi. Pun jg ketika kenangan yang tetiba datang menyapa dengan selewatan angin, sudah tidak ada lagi rindu yang ikut jalan beriringan. Entah kemana rindu yang biasa ada. Mungkin rindu itu lelah karna tidak pernah disapa oleh keduanya.

Bersabar. Mungkin jawaban atas pertanyaan dikalimat pertama adalah itu.
Untuk kamu yang sedang melupakan, semoga cepat terbiasa dan ada yang lebih baik segera menyapa. Agar kehilangan adalah keberuntungan.

Salamku untuk kamu dan aku yang sedang mencoba terbiasa.

Jumat, 12 Januari 2018

Keliru

Aku selama ini salah. Sangat salah meragukan Tuhan. Aku begitu takut akan kehilangan, selalu meratapi kepergian. Padahal posisiku bukanlah posisi yang salah dari kepergian itu. Aku bukan dipihak yang salah. Namun masih saja aku bersedu dengan sebuah kepergian itu.

Harusnya aku tak meragukan-Nya. Aku takut akan kepergian, tanpa berfikir akan ada ganti yang jauh lebih baik. Aku khawatir, bagaimana nanti aku kedepannya. Padahal sebelumnyapun tanpa dia aku jauh lebih bahagia. Aku takut ditinggalkan dan tidak mendapatkan yang seperti dia, padahal sebelumnya akupun pernah melepaskan yang jauh baik dari dia dan aku bisa.

Aku sadar sekarang. Kepergian itu adalah pengingat untuk berhenti. Dia tidak baik. Dia tidak benar benar mencintai, setianya tidak pantas untuk diukur dalam sebuah jalinan. Apa yang ingin aku perjuangkan? Untuk seorang yang tidak punya kepastian.

Iya. Aku salah.
Aku meragukan-Mu.

😉

Buat menutup mulut manusia manusia yang jenisnya suka merendahkan orang tanpa mengukur kemampuannya itu bukan dengan omongan . Gue lebih suka jawab dengan kenyataan. Asik kan tuh haha.
Gue itu orangnya mageran banget. Kalo udah mager, itu ga bisa diganggu gugat. Dan termasuk mager untuk jawab statements dari manusia jenis yg gue sebut diatas. Kadang ni ya, mereka ngomong, walaupun topiknya bukan perihal itu, gue tetep mager buat jawabnya. Terlebih kalo mereka nyepelein orang lain ataupun ya nyepelein gue. Dongkol, gondok tentu ada. Tapi tuh gue mager buat ngelayanin. Ditambah lagi mulut gue kalo udah ngebuka bisa ngeluarin kata kata luar biasa . Yaaa.. i think you know what i mind . Kasarlah intinya. Gue cuma ga mau melukai hati orang aja, bukan karna ga tega tapi karna hmm buat apa coy. Nambahin dosa gua aja. Itulah yang buat mager. Saking magernya tu oraang bacot apaan ke , bodo amat. Paling banter gue ngelirik sambil dalam hati "aduh si bodoh ini berulah kali lah" *nada keras* hhahaha apa si.
Tapi serius. Gue mager buat buka mulut. Yaaa kasarannyag begini, lo mau bacot segede apapun terserah, kita buktiin aja nyatanya gimana.
Dan kenyataannya? Terbuktikan, waktu anda habis buat menilai orang ketika saya menghabiskan waktu untuk memperbaiki yang masih salah.

So... stop comparing me with u. You can see... who i'm

Sabtu, 06 Januari 2018

Kepada kamu yang membuat rasa itu ada lagi

Kepada kamu yang temunya membuatku candu. Sabtu dan mingguku menjadi merindukan senin, yang banyak tak dinanti oleh mereka yang butuh liburan. Aku yang justru ingin senin segera datang, yang rela kembali bersatu dengan tuntutan tanggung jawab , yang penting bisa bertemu kamu yang selalu menjadi candu yang tidak usai usai.

Sejak aku jatuh karena harapan yang dibawa pergi dan lupa tidak dipulangkan, namun juga ditaruh sembarangan. Aku lupa bagaimana rasanya menanti sebuah pertemuan. Karena pertemuan yang lama aku nanti nantikan justru harus aku kubur dalam dalam karna sampai tuapun tidak akan pernah terjadi.

Sekarang, sejak ada kamu yang baru datang, namun selalu membuat candu untuk bertemu. Aku sudah mempunyai harapan, jangan kau pinjam harapan itu tanpa dikembalikan. Jika ingin pakai, pakailah berdua dengan mengajak aku didalamnya. Karena aku, tidak mau lagi merasaka kehilangan dari harapan yang dibawa pergi dan tidak dikembalikan.

Selasa, 02 Januari 2018

Aku bingung

Aku ini bagaimana. Aku ini seperti air diatas daun talas. Tak menentu arahnya.
Aku ini bilang iklas, tapi menangis. Aku bilang sudah tidak apa apa, tapi masih sering sendu.

Aku ini bagaimana.
Sudah lupa, tapi masih hafal jelas awal hingga akhirnya. Aku ini sudah tidak perduli, tapi masih ingin tahu ada apa sebenarnya.

Aku ini bagaimana. Aku ini mau sampai kapan begini. Berada diantara ia dan tidak. Berada antara melupakan namun masih suka mengenang. Membenci tapi masih merindu. Aku ini sudah tidak cinta tapi mengapa terlalu banyak tapinya.

Senin, 01 Januari 2018

Let me to know

Jatuh hatiku yang harus benar benar terasa jatuhnya kurasa sudah mulai kering lukanya. Meskipun begitu lambat, aku mulai paham untuk segala yang indah itu adalah masalalu. Sesuatu yang sudah dilewati dan hanya akan tetap dibelakang pun tidak akan lagi datang apalagi beserta palakonnya.

Semua karena ketidak tahuan. Ketidak tahuanku dalam membaca sebuah kebahagian. Aku terlanjur larut dalam definisi bagagia dan menjerumuskan pada sebuah pengharapan. Pengharapan yang justru merapuhkan hatiku sendiri, ketika semua tidak sesuai dengan apa yang menjadi kenyataannya.

Kenyataannya, semua bahagia itu adalah hal asing yang aku tidak tahu asalnya. Entahlah, bahagia itu berasal dari sebuah kesepian seseorang hingga dia membutuhkanku untuk menemukan bahagianya dan bisa mudahnya hilang ketika sebuah jarak harus ada diantarnya keduanya. Atau bahagia yang ada karena hati yang lama kosong sehingga butuh seorang penghuni, namun akan dipersilahkan pergi ketika penghuninya tidak bisa untuk selalu ada untuk setiap harinya. Atau bahagia yang berasal dari hal lain dan aku tidak tahu itu.

Aku bahagia saat itu, namu tidak tahu dari mana . Aku hanya tahu dengan siapa aku bahagia, tanpa tau mengapa dia buat kebahagiaan itu untukku.

Jika nanti ada seorang yang baru datang kembali membawa seperangkat kebahagiaan. Izin kan aku untuk tau, alasan sebuah pemberian definisi bahagia itu . Agar aku tidak lagi salah menaruh sebuah harapan. Agar tidak jatuh hati, yang begitu sakit ketika benar benar jatuh.