Minggu, 24 November 2019

Pahit

Setelah keputusan itu,  aku mencoba menguatkan hati yang lama lama terasa juga perihnya. Sejak kuputuskan untuk tegas bertanya tentang apa yang ada dipikirannya.
Agak dalam rasanya, atau perasaan ini memang sudah terlanjur dalam. Entahlah,  tapi yang jelas dia pergi setelahnya.

Sedikit menyesal.  Mungkin bila saja aku tidak mempertanyakan,  pasti dia tidak pergi.
Tapi bagaimana dengan pertanyaanku yang semakin hari terasa semakin besar terisi dengan tanda tanya yang terus muncul tentang bagaimana aku dan dia kedepannya.

Tapi dimana salahnya? 
Adakah kesalahan dari sebuah pertanyaan "kita ini apa? "

Kalau memang aku adalah sesuatu,  apa sulitnya menjawab untuk sebuah ketenangan.

Sialnya dia malah pergi.
Pahit,  tapi apakah ini lebih baik dari pada manis untuk sekarang tapi aku tetaplah sendiri di waktu yang entah kapan.

Lalu,  apakah ini sudahlah jawaban dari tanya "kita ini apa? "
Yang artinya,  aku bukan lah apa apa.
Kalau memang iya,  baiklah.  Semoga pahitnya lekas hilang.

Terimakasih.
Kamu.

Jumat, 22 November 2019

Belajar lagi

Berapa kali lagi,  harus terluka?

Sepertinya aku sudah berkali kali belajar, tapi kenapa selalu terulang?

Lagi,
Terulang lagi semalam.
Setelah lama aku mundur dalam memilih. 
Semalam kembali tumpah. 
Semalan aku kembali memaki air mata yang menetes dengan lagu yang kuputar sendiri.

Kukira sudah cukup,  ternya masih kurang belajar lagi.
Aku terluka lagi,
Haha.  Tidak apa. 
Sebelum ini lebih dalam.
Baru menetes sedikit saja,  kedepannya lebih pintar lagi.

Senin, 11 November 2019

Yakin ? Ya gak sih.


"sparing 10 minutes of your time ga akan buat kamu jadi mati lol"

Salah gak si kalo gue berpegang pada kalimat diatas?

Pertanyaan yang ganggu banget. 
Asli cuy.  Ganggu. 

Antara apakah gue yang hari gini masih aja mempersoalkan chat yang dibalas lama adalah sebuah kesalahan yang harus gue perbaikin. 
Tapi gue pikir gak ada salahnya. 

Lo sibuk.  Gua sibuk.
Lo kerja,  ya gua pun sama. 

tapi apa susahnya spare sedikit waktu? even 1 minute is enough. 1 hari 24 jam. 
Ini tuh lebih kearah, siapa sih gue?  Dan apa si artinya? 

Gue sendiri bukan tipe orang yang mau chatan tiap saat.  Jujur,  gue sesekali pegang hp saat kerja,  gue pun liat ada notified tapi ya ga gua bales karna bisa dibalas mungkin dalam keadaan gua yang lebih enjoy.

Tapi ga ada yang salah dari katakan lah menghilang,  tapi lo udah pamit.  Jadi yang lo tinggal tu ya tau,  lo pasti balik lagi.

Menghilang 2 atau bahkan berhari Hari kemudian muncul lagi. Mungkin harus dipikir lagi. 
"Lo siapa?  Dianggap apa?  Dan apakah cuma lo? "

Dan gue sendiri pasti mikir,  "apakah gue itu cuma option? "

Gak salah dong? 

Minggu, 11 Agustus 2019

Move on?

Mungkin bukan perkara sudah atau belum. 
Gue sendiri ga sebut gue udah move on.  Karna sesekali gue yang udah jelas jelas biasa aja liat story "dia" dengan beberapa wanita yang mungkin saat itu bisa dibilang lagi deket.  Tapi terkadang justru gue melemah saat liat foto kita. Terasa langsung balik kesaat itu.  Karna jujur,  dia itu gue banget.  Meskipun,  gue harus tetep sadar,  dia bukan lagi "gue banget". Sejak dia tiba tiba sering ketinggalan hp.  Haha klasik banget ya.  Atau ribuan Alasan lain untuk ga chatingan. 
Gue sendiri si ga haus di chat.  Cuma gue percaya adanya chat yang masuk dan dengan entengnya digeser ke kanan.

Mungkin belum nemu aja si,
Ko nemu si ya haha
Belum dapet aja,  yang " Dia tuh yang gue maksud".
Kaya dulu,  waktu gue ketemu dia.  Sebelum akhirnya,  diapun jadi seseorang yang berubah jadi "lo bukan buat gue".

Love and lies

Tau lagu itu? 
Aku inget kamu.  Selalu. 
Pejam mata sambil senyum senyum sendiri. 

Sepercaya itu sama drama drama itu.  Sepercaya itu sampai Saat ini masih ada pertanyaan "ini bener ga si? "

Bahkan,  untuk mereka yang baru ada.
"Ini bener? "
"Yang sebegitu aku eluh eluhkan kesabarannya,  kedewasaannya dan segala hal itu aja ternyata sandiwara.  Waktu udah ngasih bukti dengan kepergiannya yang sebegitu budah.  Gimana dia yang baru gue kenal?  Gimana gue bisa percaya".

Oh I'm waiting for you.  Waiting for something change.  Darling I waiting for u. 

Menjadi baik dan tetap baik.  Sampai yang benar benar baik itu benar ada. 

Mimpi semalam

Indah sekali.
Ehee,  tak kupungkiri aku tersenyum dibangun pagi tadi. 
Setelah sering kali kuberusaha tak mengingat wajahmu, 
Tuhan malah memberiku mimpi untuk melihat wajah yang sampai saat ini belum menjadi asing. 
Demi tuhan,Meski waktu menyeretku sudah begitu jauh. Gambar dirimu,  gambar diri kita musih apik tersimpan. Pesan pesan manismu masih ada di begian paling bawah.  Entah, untuk tujuan apa.
Andai kamu adalah masa lalu berbahan kertas,  mungkin sudah kurobek robek sejak awal.  Atau ku bakar bersama kayu bakar. 

Tapi tak semudah itu. 
Kebohongan kebohonganmu begitu dewa.  Aku yang tidak pernah sadar,  bahkan sampai saat ini. 
Meski waktu dimana kamu bertanya aku ada dimana mungkin tak akan pernah datang, pengharapan itu diam diam masih tetap ada. 

Senin, 22 Juli 2019

Esokku terasa sia sia

Mengertilah
Sejak malam itu aku tak sudi melihatmu.
Air mataku yang terbiasa kau sapu dengan tangammu
Ku hapus sendiri, bahkan tanpa ada dada bidang yang biasa ku sandarkan kepalaku.
Mengertilah,
Detik detik yang lalu masih saja sering berlalu lalang,
Padahal waktu menyeretku pada sebuah kenyataan
Bahwa aku bukanlah lagi sebuah keinginanmu
Bahwa aku bukanlah sebuah permintaanmu.
Mengertilah,
Sampai hari ini, 
Aku masih ingin esokku ada kamu,
Tak sudi melihatmu adalah sebuah kebohongan yang terus menerus ku ulang.

Mungkin,  esok masih sama
Mengharapkan sesuatu yang tidak pernah datang.
Esokku masih sia sia.

Rabu, 10 Juli 2019

Aku masih munafik.

Lama, bahkan terlalu lama.  Aku mengasuh rasa yang masih saja teruntuk yang sudah menjadi masalalu. 
Semua hanya kubungkus dengan munafik.  Tak lagi ada rasa untuk dia yang pergi sudah begitu lama, adalah kemumafikan yang ku jalani sampai malam ini.  Mungkin sampai besok pagi juga malam esok. 

Aku tidak berharap kamu kembali.  Tapi,  jika memang bisa,  tentu. 

Aku mau. 

Sabtu, 09 Februari 2019

Jauh

Mungkin dia adalah mimpi yang terlalu tinggi.  Aku terlalu asik memandang tanpa menghitung berapa jarak antara kita.  Ternyata terlalu jauh.  Tapi apakah salah bila aku berimajinasi memilikimu. 

Adakah yang salah dari seorang wanita yang mengidamkan pria yang selama ini dia cari.  Setelah bertemu haruskah mengubur semua? . 

Mungkin aku berhenti,  tapi tidak sepenuhnya mundur.  Aku hanya berhenti untuk sekedar lebih memantaskan diri.  Karna jodoh adalah cerminan diri.  Akupun merias perlahan agar bisa menjadi seorang wanita yang pantas untuk mendambakan seorang pria sepertimu . 

Semoga, kamu bisa menjadi pria yang tak hanya sekedar imajinasi. 

Senin, 07 Januari 2019

Selamat mengulang, kini semakin berkurang

Jujur,  sering kali saat melihat wajah mereka yang seusiaku tidak jarang dalam hati berbicara "kok mukanya dewasa banget ya".
Tapi sejalan dengan itu....
Beberapa kali kuhitung dibeberapa pagi aku disapa " Pagi bu".  Apa wajah ini tua sebelum waktunya?  Melihat cermin,  mungkin yang lain pun berbicara dalam hati bila bertemu ku "kok mukanya dewasa banget ya".
Telat sekali sadar,  baru menyadari ada yang semakin berkurang juga semakin berkurang.  

Kamis, 03 Januari 2019

Cinta dari yg tidak dikenal

Kepada kamu yang begitu sering kulihat
Entah berapa kali aku memandang wajah itu dalam sehari
Jatuh,  aku semakin jatuh hati
Mungkin karna itu rasanya sakit sekali.
Aku jatuh pada kamu yang tidak tau sama sekali dalam hati ini kamulah yang begitu ku ingin. 

Tidakkah kamu merasa sepi, lalu dengar jatuhnya aku yang begitu kencang.  Agar aku tidak jatuh dengan sia sia? 

Semoga, 
Jatuh cinta ini bukan lagi yang tidak dikenal,  bahkan bisa menjadi yang tak asing.