Selasa, 11 Agustus 2020

bulan july .

Katanya, kepergian adalah biasa dalam kehidupan. Setiap yang datang, punya waktunya sendiri untuk pergi. 
Tapi, kenapa rasanya masih menyakitkan?.  
Kenapa hati masih merasakan patah?.
Sepertinya, semua adalah tentang siapa yang pergi. Ketika dia yang pergi adalah seorang yang sudah punya tempat dihati, merayakan kehilangan mungkin adalah perayaan paling sakit. 


Jumat, 05 Juni 2020

Tuan

Tuan,
Di atas tanah yang sama tidak mengapa sulit untuk kita bisa berdiri sebelahan. 
Adalah aku bunga yang samakin layu. Yang satu demi satu kelopaknya menguning. 
Dan kamu tuan, 
Bagai burung yang terus mengepakkan sayapmu,kemudian terbang jauh semakin sulit ku gapai. 
Tuan, 
Tidak tau dirikah aku bila masih melubur dalam andai andai yang semakin jauh dari nyata. 
Lalaikah aku, mengharap harap yang sebenarnya tidak bisa aku gapai. 
Tuan,
Bahkan meskipun aku melihatmu semakin jauh. Tak henti henti aku berharap sampai dipenghujung hari. 
Tuan, 
Jikalau aku semakin menguning, lalu kelopakku jatuh satu demi satu ketanah. 
Tolong, sekali saja. Peluk aku. 
Meskipun sudah rapuh diatas tanah. 
Tuan, 
Tolong juga sekali saja. Rindukan aku. 

Tuan

Tuan,
Tidakkah mau melihat sedikit kearahku. 
Melihat kearah dimana aku berada. 
Ada aku, yang berdiri diatas tanah menunggu kamu yang terus terlihat semakin jauh. 

Tuan,
Aku masih diam merasa bodoh, meratapi lalainya aku yang membiarkan kamu berjalan semakin jauh. Kini, aku malah menanam banyak andai yang tidak akan berbuah menjadi kenyataan semanis andai andai yang kutanam. 

Tuan, 
Akulah sang pemimpi yang selalu membayang bayangkan dirimu, tanpa tau batas. Hari demi hari semakin tinggi, padahal aku hanya seperti selembar daun yang selalu kalah dengan banyak bunga. 

Tuan, 
Kalau saja nanti aku terlalu tinggi saat berharap, kemudian terjatuh. Aku mohon, peluk aku sekali saja. Biar mesra yang aku damba setidaknya aku dapat dipenghujung nyawa. 

Rabu, 03 Juni 2020

kenapa

Ya kenapa harus kenapa? 
Kenapa harus ada pertanyaan kenapa? 
Bodoh sekali aku. 
Kenapa perasaan yang ada, aku abaikan karna pertanyaan yang seharusnya tidak ada. 

Sekarang, bukan lagi tentang kenapa. 
Hari-hari menjadi sebuah semoga. 
Ketidak pastian yang terus-terusan aku semogakan.

 Sementara itu, melihat bahagianya sudah bukan yang kuinginkan lagi. Buat apa, aku sudah bukan bagian dari cerita. 

Kalau sudah begini, boleh tanya kenapa ? 
Kenapa kamu harus pergi dulu, baru aku tahu kamu adalah rumah . 


Kamis, 28 Mei 2020

hilang

Aku tahu, kamu sudah jadi milik perempuan itu. Tidak seperti aku, yang hanya sampai pada jatuh hati diam diam. Karna aku kira kamu tetap menunggu. 
Aku bersantai santai mencintaimu diam diam. Menulis namamu dalam hati, meminta dalam setiap doa. 
Ternyata , kamu keburu dimiliki. Aku kehilangan seorang yang belum pernah jadi milikku. 
Bisa apa aku, selain menelan antara sesal dan kecewa. Tanpa bisa aku ajukan prostes pada kamu yang bahkan tidak tahi, bahwa aku diam diam begitu mengagumi. 

Tapi, bukan kan ada yang maha membolak balikan hati. 
Bila Allah menjadikan kamu adalah takdirku , adalah sebuah yang aku aamiin kan paling khusuk. 
Tapi jika memang bukan, semoga aku bisa berlapang menerima. 
Karna Allah yang maha tau mana yang terbaik untuk hambanya. 
Bagaimana bisa ku sebut ini sebuah kehilangan, sedangkan yang kurasakan hilang adalah yang belum pernah kumiliki. 
Bisa bisanya aku sebut ini patah hati, dia saja tidak pernah tahu, aku diam diam sudah menulis namanya dalam hati. 

Padahal aku sedang memantaskan diri, agar dia tidak sungkan perkenalkan aku pada semesta. 

Hey! 
Kenapa malah dengan dia. 



Selasa, 26 Mei 2020

Berhenti.

sepertinya sudah kelewat batas aku menikmati kenangan yang seharusnya sudah usang. Seharusnya aku paham akan batas penghalang, antara kenangan dan hari ini. Hari ini harusnya sudah tidak ada lagi waktu untuk menikmati kenangan kenangan yang sudah seharusnya ditinggal. 

Aku sadar, aku menghakimi patah hatiku begitu larut. Aku melewatkan banyak hati yang mungkin lebih baik. Berkali kali tersirat rasa menyesal, melewatkan yang sempat ingin berjuang untuk singgah. 

Kepada hari ini, juga hari hari yang lain . Aku mau memulai . Semoga, Allah beri jalan . Aamiin. 

Sabtu, 28 Maret 2020

Replika

Aku kira kamu, ternyata jawabannya masih bukan.
Tapi kamu tetap tidak boleh tau hal ini.
Untung saja egoku tinggi. Seperti kata para mantan kekasih ku dulu.
Dia, mantan kekasihku yang paling terakhir itu juga pernah bilang hal yg sama. Sekarang aku percaya, itu benar.
Baguslah, egoku masih besar. Kamupun tidak perlu tau kalau aku sudah menaruh hati.
Kamu tidak perlu tau aku sempat mengira kamu adalah dia yang sempat hilang lama.
Kamu adalah wajah yang menyejukkan yang dulu sering kuusap lembut.
Kamu adalah perbincangan hangat yang selama ini hilang.
Kamu adalah sebuah ungkapan nyaman yang paling nyata setelah dia pergi.

Tapi, nyatanya kamu bukan semua itu. Kamu memang seperti replika dari semua yang aku tunggu.
Sudah, biar saja aku tenggelamkan semua dengan egoku.
Memang harusnya aku lupakan dia , juga kamu.