Minggu, 31 Desember 2017

Tidak ada kedua kalinya.

Sudah titipkan harapan, dikira adalah yg menjadikan hidup lebih baik, justru adalah yang menghancurkanmu lebih dari dulu.

Semua yang manis manis itu diberi didepan, kemudian ujungnya menyakiti lebih dari gula palsu yang membuat radang.

Orang begitu memang banyak. Setelah mendapatkan hati, kepercayaan juga beserta sebuah pengharapan kemudian berubah sedemikian rupa membuat berantakan. Tanpa perduli, itu adalah hati yang baru saja dirapikan dengan susah payah.

Cukup satu kali. Tidak ada dua dan tiga untuk memilih apalagi kecewa.

Kamu, debu yang tidak bisa diharapkan.

Sabtu, 30 Desember 2017

Apa kamu percaya dengan cinta?

Seperti judulnya, aku kembali bertanya. Apa kamu percaya? Jika itu dikembalikan padaku, aku percaya. Tapi sedikit. Sebab yang ku tau, cinta benar ada namun sering kali tidak menetap. Cinta sering ada, namun tidak permanen keberadaannya. Cinta, sering hilang dan kemudian meninggalkan tanpa memikirkan rasa keberatan pada yang ditinggalkannya.

Cinta itu bagaimana? Datang dengan ribuan angan , kemudian dengan mudahnya membuat keputusan untuk pergi.

Cinta yang katanya ada yang pergi untuk kembali. Namun kadanh menyakitkan ketika datang dengan cerita yang baru dan orang yang berbeda. Tidak apa bila yang ditinggal pergi sudah siap untuk menerima kepulangan seperti itu, bagaimana jika hatinya masih rapuh untuk sebuah kepergian yang belum diterima, dan harus menerima kepulangan yang lebih menyakitkan dari sebuah kepergian?

Bagiku sendiri, menganggap dia yang sedang pergi. Entah untuk kembali ataupun tidak akan pernah ada kepulangannya. Aku anggap saja dia orang aneh. Orang jahat yang tidak baik untuk tetap ada dalam kehidupanku.
Meski tidak semudah itu, namun itulah yang aku lakukan sampai sekarang untuk dapat membantuku pergi tanpa kembali. Walau rasa rindu yang masih saja selalu berpihak kepadamu. Tapi kenyataan yang tidak memberi ruang untuk sebuah pertemuan adalah didikan untuk  berhenti pada sebuah rindu yang mengabdi pada orang yang salah.

Kamis, 28 Desember 2017

Sebab aku lupa jalan untuk kembali

Seperti malah mendapatkan yang berbanding terbalik dari semua yang ada. Ketika aku menjatuhkan hati terlalu dalam, justru aku mendapatkan balasan yang begitu dangkal. Ketika hati bersikeras untuk bertahan, justru kepergian yang menjadi kenyataan. Saat aku ingin tetap menggenggam , yang ada hanya tangan yang begitu kuat untuk melepaskan genggaman itu.

Ketika orang begitu aku cinta, justru menyuruhku untuk melupakan semua yang pernah ada. Kenangan yang diukirnya bukan sehari dua hari. Apa dia tidak pernah merenungkan barang sedikit saja, tentangku. Tentang bagaimana aku yang dipaksanya berhenti mencintai.

Sudah cukup lama sejak semua itu terjadi. Sampai sekarang, aku masih ditempat yang sama. Masih mencintai, dan belum tau jalan kembali .

Selasa, 26 Desember 2017

Kepergian yang ingin dibawa.

Salahkah jika sampai saat ini, aku masih tidak menginginkan kamu sebagai masalalu. Apakah ini keliru? Kamu, yang jelas tidak akan pernah lagi hadir diwaktuku kini dan kemungkinan sangat besar juga tidak akan adalagi diwaktu yang akan datang nanti, namun justru masih saja belum mau menerima kamu adalah masalalu. Sulit sekali sepertinya menerima, bahwa kamu adalah sesuatu yang tidak bisa aku bawa untuk mengisi sela jemariku.

Dalam diam, aku merasa didalam hati ini ada satu pintu masih membuka menunggu pulangnya kamu, yang jelas tidak akan kembali. Namun apa mampuku selain tetap diam. Kamu yang semakin jelas tidak akan kembali dan semakin terlihat begitu jauh. Dan aku, yang hanya terpaku melihat kepergianmu yang semakin lama semakin tidak bisa aku lihat.

Indah, namun menyakitkan. Ketika satu persatu yang pernah ada, beriringan muncul dalam ingatan. Kamu sudah pergi, dan tidak akan pernah kembali. Selain dalam bunga tidur, tidak akan lagi ada kamu. Aku sadar dan kenyataan yang harus dijalani meski kadang menyesakkan  hati yang masih rapuh sejak kepergianmu dihari itu.

Sabtu, 09 Desember 2017

Who am i?

Ga ngerti ini tuh yang ngebentuk kaya gini lingkungan atau karna dari dalem diri sendiri yang emang udah berontak. Gue tuh taunya gue ada lah sosok orang yang kalo kesel sama orang itu dipendeng terus maklumin orang itu. Anggap aja dia khilaf, anggap aja dia ga ngerti dan anggapnya yang kearah ujungnya tuh gue diemin sikap dia yang gue ga suka.
Tapi sekarang tuh rasanya ada yang beda. Yang mana kalo ada orang ngomongnya sedikir keras atau anak jaman sekarang bilangnya "rada ngegas" itu gue balik lebih kenceng atau mah gue sentak langsung "gak usah ngegas dong lu" dengan mata gue yang kata orang sinis, alis tegang jidat langsung belipet . Dan gue sekarang kalo ga suka ga akan yang namanya senyum basa basi, pokonya ya dia ga negor atau ga ada minta maaf sama gue, ya gue bakal anggap orang itu ga ada.

Entah ini sebenernya baik atau ngga. Tapi yang gue pegang adalah, tetap bersikap baik sama orang selama dia pantas menerima sikap baik kita. Selama kita benar dan gak salah gue rasa ga ada salahnya buat kasih tau kalo kita maunya begini, kalo apa yang dia lakuin ga sesuai, kalo yang dia kasih kekita sikap atau perlakuannya itu melenceng itu ga ada salahnya buat di bilangin selama dalam batas wajar.

Iya. Kadang kita harus punya batasan sama orang lain terutama sama orang yang jelas emang patut dikasih batasan buat deket sama kita.

Jumat, 01 Desember 2017

Kepada kamu yang dukanya belum tuntas

Ku tuliskan surat ini untuk kamu yang sedang mendung hatinya. Yang baru saja membiasakan diri dengan ketiadaan dari apa dan dengan siapa semua itu biasa ada.
Kamu memang tidak bisa meminta sebuah lupa, namun tidak juga pasrah tenggelam dengan semua yang sudah hilang .
Bila memang melupakan adalah suatu yang mustahil, membiasakan hilangnya perasaan adalah pilihan dari sebuah usaha agar biasa dengan sebuah ketiadaan yang memang tidak akan ada lagi.

Kepada kamu yang sedang mendung hatinya. Berhenti untuk mengetahui apapun itu tentangnya adalah jalan pintas yang paling tepat. Sebuah usaha yang cukup keras kepada hati yang sedang lemah lemahnya memang. Namun itulah cara terbaik agar tidak terus menerus menampung beratnya air mata dalam hati yang mendung sudah begitu lama

Desember

Januari sebentar lagi datang. Angka dibelakang tahun akan berganti lagi. Rasanya belum lama sebuah kedatangan yang sebelumnya tidak pernah ku prediksi di penghujung tahunnya sudah jadi sebuah kepergian.
Jujur, untuk sebuah kata percaya rasanya semakin mahal untuk kutanamkan kembali dalam hati ini. Keraguan yang subur menjalar seakan menjadi parasit yang memakan rasa untuk kembali mencintai seseorang. Nyaliku seperti semakin mengkerut ketika ada sebuah rasa yang berbeda pada seseorang namun takut akan bertemu lagi dengan sebuah kepalsuan.
Menghindar, menjauh, mengabaikan masih saja begitu sampai sekarang. Padahal hal buruk itu sudah cukup lama, namun bekasnya seakan masih terasa. Mungkin masih ada sedikit lebam dari kenangan yang tadinya cukup indah.
Tapi sampai kapan, ketika sebuah rasa untuk percaya pada seorang yang baru begitu mahal rasanya untuk kumiliki.
Katanya obat dari patah hati adalah dengan adanya seorang yang baru, sedang sampai sekarang saja aku seperti lupa dimana menaruh kunci untuk membuka hati.