Minggu, 29 April 2018

Senja

Aku selalu menyukaimu. Meski kadang, melihatmu membuat hati teriris . Bersama bahagia, tidak juga terkecuali saat duka.
Sore dan senja, sore dan kisah, senja dan cerita masa lalu.
Sore ini aku datang mau bercerita, bersama angin yang pelan berhembus membahas kisah yang dulu pernah ada dan begitu indah sepertimu.

Senja,
Wajahku yang berseri-seri , tawaku yang mengisi wajah sore itu, juga seorang yang disampingku saat itu sudah tidak ada. Semua pergi seperti dibawa angin. Pelan pelan menjauh dan hilang tak berarah. Sudah aku kejat, namun tertinggal. Aku tidak mampu lagi mengejar.
Sore ini ku kembali menatapmu, sendiri tanpa ada dia disampingku lagi. Ia pergi membawa sepaket bahagia yang pernah dibawa. Meninggalkan ku bersama harapan yang sudah hampir mati. Kini tinggal aku yang menatapmu sendiri. Melihat keindahanmu sendiri meski stengah keindahannya sebenarnya adalah dimatanya.

Sabtu, 28 April 2018

Mungkin nanti

Ku hitung bulan demi bulan aku sendiri, sampai lupa ini bulan keberapa atau mungkin sudah menginjak tahun. Ada beberapa nama pernah hampir menyentuh hati yang lama tidak diisi nama seseorang yang biasanya disebut pasangan. Ada saja yang membuat ingin tetap mengosongkannya. Bukan terlalu memilih atau terus mencari yang lebih. Tapi ada saja yang membuat kembali mundur. Aku hanya ingin menjadi yang memang satu satunya, bukan pilihan dari diantara. Aku hanya ingin menjadi satu satunya, bukan dari karna yang memang kebetulan ada.
Tapi belum kutemukan itu, belum ku bertemu dengan yang benar berjuang. Sekarang hanya memantaskan diri, menjadi seorang yang baik, karna ku percaya pada janji Allah, seorang yang baik adalah untuk orang yang baik.

Minggu, 08 April 2018

Aku terima kenyataan, mencintaimu diam diam

Sebelumnya, cinta itu tidak ada. Aku masih menangisi cinta yang dulu. Cinta masalalu. Hatiku tak usai usai ku rapihkan. Berantakannya begitu berserak. Kepingannya mungkin terlalu kecil , kenangannya berserak dimana mana. Hingga sulit untuk ku satukan satu persatu menjadi utuh.

Sampai suatu hari, kamu datang menyatukannya begitu mudah. Tanpa sadar hati itu untuh namun tertulis nama baru .

Nama mu.
Nama yang entah sejak kapan ada. Menjadi penghuni baru, hingga aku terbiasa.
Aku lupa, tidak seharusnya menyimpan semua itu. Kamu bukanlah milikku. Ada wanita yang jauh lebih dulu, wanita yang dalam hatinya juga pasti ada namamu begitu juga sebaliknya.

Sedang aku? Hanya ada namamu dihati, bukan untuk sebaliknya.

Aku tidak akan meminta kamu menghapus namanya, karna ku tahu itu tidaklah mungkin. Biarlah saja aku menerima kenyataan untuk mencintaimu diam diam. Tanpa kamu harus tau, tanpa kamu perlu mengerti.

Biar ku sibukkan diri sendiri, agar ada pekerjaan lain selain mencintaimu diam diam. Karna itu sakit. Karna itu membuat hati nyaris kembali retak. Aku hanya tidak mau semua berantakan lagi. Jika berserak lagi, siapa lagi yang menyatukan?

Lagi apa kak? Aku kangen.

Sekarang kalo aku cape pulang kerja, ga ada lagi yang semangatin bilang "namanya juga kerja, masa ga cape" . Denger orang bilang gitu mungkin aku emosi, tapi kalo kaka yang bilang rasanya jadi seneng . Atau "cape hari ini ga akan kerasa besok, paling masuk angin aja." Siapa lagi coba yang ngelawak garing kaya gitu.

Atau saling cerita terus kamu bilang "kamu tau ga? Aku gananya"
Itu tuh gemes banget. Udah semangat banget cerita dijawab begitu. Tapi abis itu kamu ketawa sambil respon cerita aku.

Aku kangen ka.
Kaka dimana? Sama siapa? Udah makan belum? Kaka lagi telponan sama cewe ya? Lagi punya cewe baru ya? Lagi sama mantan apa calon pacar?

Kaka ga kangen aku tanya kaya gitu sekaligus? Terus kaka jawab, "kamu. Kamu itu cewenya".

Kamis, 05 April 2018

Aku tunggu sampai kapan?

Ini tulisanku yang ke tiga dimalam ini. Yang ku kira, ketika handphone ku kutaruh, saat kulihat ada panggilan tak terjawab darimu.

Aku salah.
Hari sudah mau berganti. Belum juga ada kabarmu.

Kamu tau , hatiku kini penuh dengan rindu,  penantian menenggelamkanku dimalam ini. Ku hitung jam perjam, menebak nebak di jam berapa bisa mendengar suaramu. Atau setidaknya sebuah pesan berisi rindu seperti biasanya.

Kesal.
Aku kesal setiap handphone ku bergetar. Kulihat bukan dari kamu. Kenapa yang lain, kemana kamu? Memangnya tidak bisa mereka mengirim pesan tidak dimalam ini.
Aku ini sedang menunggu. Menunggu kamu. Kenapa malah bukan kamu yang datang.

Aku baik baik saja. Aku sudah tidak apa apa. Sejak ada kamu, sejak kamu datang. Sejak pertama suaramu kudengar, sejak tawa yang membuat perutku keram dibuat oleh kamu.

Aku belum berterimakasih. Meski tidak penting, tapi aku tetap mau bilang. Ada terimakasih yang ingin kusampaikan ditambah dengan rindu.
Aku rindu, rindu sekali. Kenapa buat rindu. Rasanya aku salah, tidak pernah beri tahumu tentang masalalu ku. Yang pernah sakit karena rindu hingga akhirnya berpisah.

Kamu yang membuatku sembuh, kenapa menyakitiku dengan hal yang sama ?

Apa salahnya rindu?

Malam ini panas . Hatiku mendung. Aku rindu  , rindu yang bukan waktunya.

Maaf, aku tidak tahan lagi tanpa kabarmu.  Aku ingkar janji pada hati sendiri. Janji tidak akan rindu, utamanya pada suaramu. Suara yang sering kudengar saat sedih, suara yang terdengar saat bahagia lalu dibuat makin bahagia. Aku rindu saling melihat dilayar handphone saat tidak bisa bertemu. Rutinitas setiap malam, setiap bangun tidur, juga setiap merasa rindu.

Kamu kenapa pergi? Aku mau tanya itu.
Kamu kenapa hilang? Aku harus cari kemana? Pesanku sudah 2 jam lalu terkirim. Belumkah dilihat?

"Kamu kemana?"

Belum terbaca atau memang semua sudah terbaca. Terbaca untuk berhenti.

Aku cuma rindu. Memang salah?

Rindu yang salah

Aku tahu, aku seharusnya tidak menginginkanmu. Harusnya aku memang berhenti. Berhenti untuk mencintai, berhenti untuk mengagumi termasuk berhenti untuk berkhayal memilikimu.

Kamu milik dia. Seorang perempuan yang menurutku begitu beruntung. Mungkin setiap harinya dia tertawa, seperti kamu yang sering kali membuat bibirku tersenyum melebar lebih dari biasanya.

Aku akan berhenti untuk semua itu. Tapi tidak untuk rindu. Rindu itu datang terus. Tidak bisa aku tolak. Bagaimana  caranya? Kamu tahu tidak. Sini aku lakukan, kalau memang rindu itu harusnya tidak ada.

Sekarang, kalau rindu aku hanya melihat namamu dalam kontak handphone. Tidak lebih hanya membesarkan wajahmu lalu ku pandangi.  Atau membaca chat yang setiap harinya menjadi rutinitas, yang sekarang menjadi kenangan. Kalau tidak, aku pandangi saja screen capture wajah kita berdua saat vidio call. Dipagi, siang ataupun malam. Aku menyimpannya diam diam. Karna aku tau, kamu tidak akan lama. Ada perasaan , seakan tau suatu saat mungkin tidak lagi bisa begini. Mungkin kamu  pergi. Mungkin tidak bisa lagi lihat kamu. Nanti aku pasti rindu tawamu, rindu gurauanmu.

Sekarang aku rindu. Rindu melulu. Tidak tau sampai kapan. Tapi tidak berani. Kamu milik dia.

Rabu, 04 April 2018

Rindu

Sudah cukuplama namanya tidak lagi muncul di layar handphone. Padahal, namanyalah yang sering kutunggu muncul saat handphone bergetar. Setelah nama dia, yang dulu sering kali kutunggu padahal tidak mungkin lagi. Namanyalah yang selalu buat gembira bila handphoneku bergetar.

Aku dibuat lupa tentang bagaimana sakitnya ditinggalkan. Kamu menjadi suara yang sering ditunggu telingaku. Tawa yang begitu mudahnya kamu selipkan disetiap perbincangan.

Dimana ? Bagaima kabarmu? Aku , seorang yang paham tidak punya ikatan . Mungkin memang tidak berhak menuntut kabar. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur candu.

Kamu yang mengeluarkanku dari labirin cinta masalalu yang telah usai, kenapa pergi setelah baru saja aku merasa bebas dari kenangan masalalu. Aku masih mau ditemani, masi mau dituntun. Aku belum bisa berjalan sendiri.

Kamu dimana? Aku masih merangkak, masih butuh tanganmu untuk memapah pelan pelan. Kenapa sudah ditinggal pergi, nanti aku tersesat lagi.

Untuk kamu, lelaki yang datang tiba-tiba , kalau sekarang pergi juga tiba-tiba, nanti datang lagi jangan tiba tiba ya.