Selasa, 27 Maret 2018

Tidak mau percaya lagi

Kalau kamu ingin tau, kenapa aku tidak lagi percaya yang namanya hubungan jarak jauh. Sini, duduk disanpingku. Pinjam pundakmu aku mau bercerita tapi ini berat, aku takut tidak kuat menahan kepalaku sendiri.

Jadi begini,
Sebelumnya aku pernah jatuh hati, bisa dibilang pada seorang laki laki berwajah cukup tampan, tubuhnya cukup tinggi, kalau dia senyum aku yang sedang marah bisa reda seketika. Dia laki laki yang lucu, menurutku dewasa. Kalau dia sedang bicara aku selalu fokus karna ceritanya selalu saja berhasil menarik perhatian. Sampai akhirnya, aku harus kembali kuliah saat itu. Sedangkan dia bekerja di Jakarta. Diawal kami memulai hubungan jarak jauh,  tiap hari bahkan saat dia sedang dijalan selalu menghubungi. Sering juga dia marah kalau aku lama angkat telponnya. Sampai akhirnya tiba tiba kabarnya tidak ada. 3hari, iya selama itu. Aku diamkan, tapi gelisah setiap harinya. Sampai menginjak disatu minggu, akupun menghubunginya. Dia bilang, maaf dia sibuk seminggu kemarin. Namun ternyata sibuknya bukan minggu kemarin saja, tapi minggu minggu kedepannya. Akhirnya aku putuskan berhenti. Berhenti untuk berjuang. Hubungan ini tidak sehat. Berat sekali, aku pendam sendiri. Padahal sedihnya bukan main.

Sampai akhirnya, di semester terakhir kuliah aku ikut kursus bahasa inggris. Disana bertemu seorang pria berwajah sedikit angkuh. Awalnya aku tidak suka, gayanya sombong sekali. Tapi singkat cerita, ternyata dia mau memulai obrolan dan cukup ramah. Aku yang sedang patah hati saat itu, seperti lupa dengan keadaan hati sebelumnya.  Sampai tiba di suatu hari, aku masih ingat di 21 januari 2017, kami memutuskan untuk menjalin sebuah status. Terlalu cepat memang, tapi buatku memang kalau sudah merasa cocok buat apa banyak pikir lagi. Kalau dibilang aku terlalu cepat jatuh cinta, mana buktinya? Selama kuliah di Jogja siapa yang pernah menjadi pacarku? Satupun tidak ada. Karna seringkali baru memulai aku sudah mundur. Awalnya aku kira dia lelaki yang baik. Cueknya membuat aku yakin, dia tidak seperti yang lain. Bahkan ketika tidak ada kabar sama sekali, dan sebenarnya hati merasa begitu janggal dengan kabarnya yang hanya sebatas seperti absen pagi dan malam saja. Aku tidak pernah membiarkan pikiran yang mengurangi rasa percayaku pada dia muncul begitu saja. Semua kutepis tanpa pikir pikir lagi.
Yang semua ternyata malah berujung menyerangku balik.
Kenapa aku tidak mengambil keputusan seperti sebelumnya. Mengapa bukannya lebih pintar dari sebelumnya. Aku mempercayai orang yang salah. Mempercayai orang yang sama sekali tidak bisa dipercayai. Kadang kesal kalo ingat wajahnya. Melihat fotonya sebatas di sosial mediapun kadang aku langsung tutup bila muncul. Padahal awalnya setelah semua selesai, sering sekali buka buka akunnya padahal jelas fotoku sudah dihapus.  Tapi makin kesini, makin takut. Sekarang, malah jadi lupa. Samar samar wajahnya, saking lamanya tidak pernah lihat lagi. Diapun tidak izinkan aku lihat wajahnya lagi sepertinya, akunku dihapus.  Padahal sudah ku coba perbaiki semua walaupun bukan sebagai pasangan.

Tapi sudahlah. Aku lupa. Dan tidak mau lagi hubungan jarak jauh.

Minggu, 25 Maret 2018

Aku berhenti menyebut nama dia juga kamu dalam doa.

Terimakasih sudah hadir. Menyatukan hati yang sempat berantakan menjadi kembali utuh. Meski kamu hadir begitu singkat dengan begitu banyak rahasia. Tapi aku akui, setelah begitu lama, mungkin terlalu lambat aku melupakan nama dan perasaan untuk dia. Juga dari beberapa nama yang pernah mencoba menyatukan hati yang berserakan itu, entah rasanya tidak pernah terasa jadi utuh.

Kamu yang tetiba datang. Lalu membawa tawa yang percis dia bawa saat pertama datang. Membawa kata yang rangkaiannya seperti mengajak untuk keluar dari labirin cinta yang sudah usai namu belum bertemu dengan pintu keluarnya. 

Sejak mengenalmu. Aku seperti benar benar keluar dari labirin yang begitu rumit lalu bebas dengan mudahnya. Hingga aku behenti menyebut namanya dengan dalam doa. Hingga aku berani meminta nama selain dia. Kamu, adalah nama yang kuminta. Sampai akhirnya, akupun berhenti menyebut namamu dalam doa.

Kamu, membawaku keluar dalam ruang yang rumit, tapi mengajakku pada sesuatu yang begitu abu. Kamu mengajakku pada ruangmu, tapi kamu matikan cahayanya. Aku seperti diajak melihat keindahan tapi dalam redup.

Kuputuskan untuk berhenti, karna saat kutemukan titik lampunya, ternyata aku dalam sebuah ruang milik seseorang. Ada tuan rumah yang sudah jauh lebih lama menempatinya.

Aku tamu yang kamu undang dalam ruangmu, ruang yang sudah berpenghuni. Aku mau pulang saja, sebelum diusir sebagai tamu tak diundang.

Terimakasih.
Aku berhenti menyebut namanya dalam doa.


Juga kamu.

Sabtu, 17 Maret 2018

Aku mau seperti kamu

Bagaimana bisa seperti kamu, melupakan lalu bahagia.
Andai kamu tahu, tawaku ini kepalsuan. Senyumku siasat untuk menutupi kesedihan.
Berdiriku sekarang, menopang banyak kekecewaan , yang begitu memberatkan.

Aku mau seperti kamu. Pergi semakin jauh, tanpa menengok kebelakang. Akupun ingin begitu, pergi tanpa terus teringat yang lalu lalu.

Aku sudah berulang kali mencoba membuka hati, namun segala yang manis itu justru mengingatkan kepadamu.

Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada yang lain, sedang hatiku masih kuat untukmu.
Bagaimaba aku bisa menerima cinta yang baru, sedang cintaku masih saja kamu.

Kamu pergi begitu jauh, tidak mungkin lagi kembali. Akupun tau itu. Tapi hati ini terasa selalu berharap, meski sudah ku kubur, selalu saja kembali terbuka padahal harapannya sudah tertutup.

Kamis, 15 Maret 2018

Wajahnya kulupa , kenangannya begitu pekat

Masih tersimpan bayangannya, bayangan yang masih sangat begitu jelas. Bayangan dari cinta yang sebelumnya begitu penting. Entah sepenting apa hingga membuat begini.

Harus sesakit inikah jatuh cinta yang kemarin? Cinta yang sudah tidak lagi ada sejak saat itu, atau mungkin memang yang sebenarnya tidak pernah ada. 

Pernah aku berfikir untuk terus bertahan, namun tidak mampu aku mengikutinya. Ia semakin jauh dan tidak mampu untuk kukejar lagi.

Sesakit ini kah ?
Aku bertanya lagi. Pada rindu yang tidak diobati .
Sesakit inikah?
Pada kenangan yang selalu muncul setiap harinya?
Sesakit inikah?
Pada setiap kata kata yang pernah kudengar begitu membahagiakannya yang seketika seperti sebuah angin lalu.

Aku harus bagaimana? Ingin sekali melupakan dia yang jelas tidak tau lagi kabarnya. Dia yang sudah jelas bahagia dengan pilihannya. Dia yang sudah jauh pergi dan tidak mungkin lagi ada .

Dimana lagi aku menemu kenyamanan seperti waktu itu? Dimana lagi aku temui cerita yang indahnya sama ?

Aku ingin lupa. Seperti dia yang mudah melupakanku.
Aku sudah mengiklaskan, hanya saja belum melupakan. Mengapa begitu sulit untuk lupa, padahal tidak lagi ada jalan untuk bertemu, kabarnyapun sama sekali tidak tahu. Wajahnya saja sudah samar samar untuk ku ingat, tapi kenapa kenangannya masih begitu pekat.

Doaku, semoga dia bahagia selalu.
Begitu juga ku ingin, aku bahagia selalu. Tanpa dia, yang sudah pergi begitu jauh.

Rabu, 14 Maret 2018

Melupakan itu tidak sebentar

Melupakan itu tidak sebentar, melupakan itu tidak semudah menutup ruang yang kosong. Dikunci lalu tidak terbuka lagi.

Melupakan itu, meski kadang sudah dicoba tutup kuat kuat, masih saja akan teringat bahkan kadang semakin pekat.

Melupakan itu tidak sebentar, malah bisa jauh lebih lama dari mengenal. Lebih lama dari bersama, lebih lama dari yang pernah terasa manisnya.

Melupakan itu tidak sebentar. Meski sudah ada yang mengisi memori baru, yang lama tidak terhapus begitu saja.

Melupakan itu bukan butuh tenaga, tapi butuh keiklasan. Keiklasan yang tidak cukup diwaktu yang sebentar.

Maka itu, melupakan tidak sebentar. Bukan berarti belum terima kenyataan. Tapi kembali lagi, melupakan itu tidak sebentar.

Aku ingin melupakan , melupakan yang katanya butuh waktu lama. Tapi aku tetap ingin melupakan. Entah tidak sebentar itu, tidak tau sampai kapan.

Sabtu, 10 Maret 2018

Bodoh

Hampir saja kulanggar sumpah yang ku ucapkan hampir disetiap malam sebelum tidur. Rindu, menjadi alasan yang membuat aku hampir mematahkan tiang baru yang ku susun satu persatu.
Sebuah pertemuan untuk sebuah jawaban yang ingin ku dengar sendiri, menjadi jadi dimalam terakhirku dikota ini. Bagaimana bisa, tiba tiba berpikir untuk bertemu.
Kau ingin hancurkan hatimu sendiri? Mau hancurkan lagi apa yang selama ini kau bangun ulang? .

Sardarlah.
Kenapa kembali bermimpi. Tidakkah cukup mimpi kemarin menjadikan hatimu jadi keping keping. Mimpi yang terlalu kau percaya, lalu mengacaukan segalanya.

Sudahlah.
Buka hati untuk yang jelas jelas mengetuk ngetuk membawa sesuatu yang baru. Mau sampai kapan pura pura tidak dengar? Mau sampai kapan diam didalam, tidak semua tamu menyakitkan seperti yang sudah sudah.

Ia sudah pergi. Sangat begitu jelas perginya. Tidak lagi rindu yang dia punya untukmu, tidak ada lagi kenangan yang masih dikenang tentang kamu.

Harus berapakali menyadarkan diri sendiri.

Rabu, 07 Maret 2018

Kamu tidak perlu tahu

Kamu tidak akan pernah mengerti, beratnya merindukan seseorang yang harusnya tidak lagi dirundakan. Kamu tidak akan pernah tau, berapa sulitnya aku melupakan perasaan yang sudah terlalu dalam kusimpan dalam hati. Kamu tidak akan pernah tau, aku yang dilepas begitu saja ketika sedang butuh butuhnya digenggam.

Haruskah aku ceritakan semua itu padamu. Tentang aku yang pernah mencintai seseorang yang tidak pernah mencintaiku?
Perlukah kamu tahu, aku pernah ditinggal dengan alasan yang begitu klasik. Aku ditinggal atas nama kebahagiaanku, padahal saat itu justru aku lebih bahagia ketiaka ia tetap ada. Aku begitu hancur saat itu, tapi tidak punya kuasa untuk menahan pergi.

Kurasa kamu tidak perlu tahu itu semua. Kamu hanya perlu tahu, aku pernah susah payah untuk kembali seperti sekarang. Pertanyaan itu mungkin sebuah kewajaran, tapi terlalu rumit untuk kembali kuceritakan .

Selasa, 06 Maret 2018

Nightmare

Minggu ini masuk kerja cuma 1 hari. Entah, kenapa pas masuk kerja penyakit penyakit yang kirain ga bakal kena ke gue tau tau malah jadi langganan. Haha disangka badan kebal kali ya. Asem lambung yang sering tinggi, bikin gue sering mual malah muntah tiba tiba, udah ga bisa lagi yang namanya kena soda. Dan sekarang badan ambruk, masuk cuma hari rabu aja. Pit, pit belum junior rasa manajer kali ya haha.

Pagi di hari kedua gue sakit, badan ga enak sampe mimpi buruk. Nama seseorang yang udah lama ga gue lihat apa lagi sebut , tiba tiba gue sebut sampai dibangunin mama. Gue ga mikirin orang itu sama sekali ko. Udah cukup lama rasanya gue ga pernah lagi inget, sejak gue sadar kalau gue udah bener bener dihapus dari hidup orang itu.

Sakit banget rasanya mimpi kaya gitu. Dimimpi itu, semuanya kaya keputer lagi. Dimimpi itu, gue masih jalin hubungan sama dia, gue chat dia tapi jarang banget dibales, gue nunggu terus menerus kabar dia, tapi dia ga pernah kasih kabar walaupun cuma sekedar kasih tau dia lagi apa. Dia selalu chat di jam 8 malam dan hanya untuk izin mau tidur. Gue nangis, gue pengen protes tapi gue ga berani. Karna gue tau, dia udah ga sayang sama gue, nanti kalo gue protes gue takut malah dia mutusin gue. Dimimpi itu rasanya gue kangen banget tapi ga bisa apa apa. Rasanya sesek banget, mungkin karna itu gue sampe ngelindur nyebut nyebut nama itu. Gue bangun, agak sedikit sedih, karna rasa sakit itu kaya muncul lagi.

Tapi gue ga mau nurutin rasa sedih kaya gitu. Itu cuma mimpi . Dan gue ga akan ngerasain itu lagi. Cukup satu kali aja. Cukup jadi pengingat, jangan mudah percaya sama kata kata seseorang sama kita, jangan berharap karna sebuah harapan kadang benih yang nantinya tumbuh jadi sebuah kekecewaan. Jangan terlalu tulus sayang terlalu dalam sampai kita ga bisa pergi saat tau itu semua ga sehat, saat kita tau dia bukan lah yang biasa kita kenal.