Aku tahu, aku seharusnya tidak menginginkanmu. Harusnya aku memang berhenti. Berhenti untuk mencintai, berhenti untuk mengagumi termasuk berhenti untuk berkhayal memilikimu.
Kamu milik dia. Seorang perempuan yang menurutku begitu beruntung. Mungkin setiap harinya dia tertawa, seperti kamu yang sering kali membuat bibirku tersenyum melebar lebih dari biasanya.
Aku akan berhenti untuk semua itu. Tapi tidak untuk rindu. Rindu itu datang terus. Tidak bisa aku tolak. Bagaimana caranya? Kamu tahu tidak. Sini aku lakukan, kalau memang rindu itu harusnya tidak ada.
Sekarang, kalau rindu aku hanya melihat namamu dalam kontak handphone. Tidak lebih hanya membesarkan wajahmu lalu ku pandangi. Atau membaca chat yang setiap harinya menjadi rutinitas, yang sekarang menjadi kenangan. Kalau tidak, aku pandangi saja screen capture wajah kita berdua saat vidio call. Dipagi, siang ataupun malam. Aku menyimpannya diam diam. Karna aku tau, kamu tidak akan lama. Ada perasaan , seakan tau suatu saat mungkin tidak lagi bisa begini. Mungkin kamu pergi. Mungkin tidak bisa lagi lihat kamu. Nanti aku pasti rindu tawamu, rindu gurauanmu.
Sekarang aku rindu. Rindu melulu. Tidak tau sampai kapan. Tapi tidak berani. Kamu milik dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar