Minggu, 25 Maret 2018

Aku berhenti menyebut nama dia juga kamu dalam doa.

Terimakasih sudah hadir. Menyatukan hati yang sempat berantakan menjadi kembali utuh. Meski kamu hadir begitu singkat dengan begitu banyak rahasia. Tapi aku akui, setelah begitu lama, mungkin terlalu lambat aku melupakan nama dan perasaan untuk dia. Juga dari beberapa nama yang pernah mencoba menyatukan hati yang berserakan itu, entah rasanya tidak pernah terasa jadi utuh.

Kamu yang tetiba datang. Lalu membawa tawa yang percis dia bawa saat pertama datang. Membawa kata yang rangkaiannya seperti mengajak untuk keluar dari labirin cinta yang sudah usai namu belum bertemu dengan pintu keluarnya. 

Sejak mengenalmu. Aku seperti benar benar keluar dari labirin yang begitu rumit lalu bebas dengan mudahnya. Hingga aku behenti menyebut namanya dengan dalam doa. Hingga aku berani meminta nama selain dia. Kamu, adalah nama yang kuminta. Sampai akhirnya, akupun berhenti menyebut namamu dalam doa.

Kamu, membawaku keluar dalam ruang yang rumit, tapi mengajakku pada sesuatu yang begitu abu. Kamu mengajakku pada ruangmu, tapi kamu matikan cahayanya. Aku seperti diajak melihat keindahan tapi dalam redup.

Kuputuskan untuk berhenti, karna saat kutemukan titik lampunya, ternyata aku dalam sebuah ruang milik seseorang. Ada tuan rumah yang sudah jauh lebih lama menempatinya.

Aku tamu yang kamu undang dalam ruangmu, ruang yang sudah berpenghuni. Aku mau pulang saja, sebelum diusir sebagai tamu tak diundang.

Terimakasih.
Aku berhenti menyebut namanya dalam doa.


Juga kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar