Kalau kamu ingin tau, kenapa aku tidak lagi percaya yang namanya hubungan jarak jauh. Sini, duduk disanpingku. Pinjam pundakmu aku mau bercerita tapi ini berat, aku takut tidak kuat menahan kepalaku sendiri.
Jadi begini,
Sebelumnya aku pernah jatuh hati, bisa dibilang pada seorang laki laki berwajah cukup tampan, tubuhnya cukup tinggi, kalau dia senyum aku yang sedang marah bisa reda seketika. Dia laki laki yang lucu, menurutku dewasa. Kalau dia sedang bicara aku selalu fokus karna ceritanya selalu saja berhasil menarik perhatian. Sampai akhirnya, aku harus kembali kuliah saat itu. Sedangkan dia bekerja di Jakarta. Diawal kami memulai hubungan jarak jauh, tiap hari bahkan saat dia sedang dijalan selalu menghubungi. Sering juga dia marah kalau aku lama angkat telponnya. Sampai akhirnya tiba tiba kabarnya tidak ada. 3hari, iya selama itu. Aku diamkan, tapi gelisah setiap harinya. Sampai menginjak disatu minggu, akupun menghubunginya. Dia bilang, maaf dia sibuk seminggu kemarin. Namun ternyata sibuknya bukan minggu kemarin saja, tapi minggu minggu kedepannya. Akhirnya aku putuskan berhenti. Berhenti untuk berjuang. Hubungan ini tidak sehat. Berat sekali, aku pendam sendiri. Padahal sedihnya bukan main.
Sampai akhirnya, di semester terakhir kuliah aku ikut kursus bahasa inggris. Disana bertemu seorang pria berwajah sedikit angkuh. Awalnya aku tidak suka, gayanya sombong sekali. Tapi singkat cerita, ternyata dia mau memulai obrolan dan cukup ramah. Aku yang sedang patah hati saat itu, seperti lupa dengan keadaan hati sebelumnya. Sampai tiba di suatu hari, aku masih ingat di 21 januari 2017, kami memutuskan untuk menjalin sebuah status. Terlalu cepat memang, tapi buatku memang kalau sudah merasa cocok buat apa banyak pikir lagi. Kalau dibilang aku terlalu cepat jatuh cinta, mana buktinya? Selama kuliah di Jogja siapa yang pernah menjadi pacarku? Satupun tidak ada. Karna seringkali baru memulai aku sudah mundur. Awalnya aku kira dia lelaki yang baik. Cueknya membuat aku yakin, dia tidak seperti yang lain. Bahkan ketika tidak ada kabar sama sekali, dan sebenarnya hati merasa begitu janggal dengan kabarnya yang hanya sebatas seperti absen pagi dan malam saja. Aku tidak pernah membiarkan pikiran yang mengurangi rasa percayaku pada dia muncul begitu saja. Semua kutepis tanpa pikir pikir lagi.
Yang semua ternyata malah berujung menyerangku balik.
Kenapa aku tidak mengambil keputusan seperti sebelumnya. Mengapa bukannya lebih pintar dari sebelumnya. Aku mempercayai orang yang salah. Mempercayai orang yang sama sekali tidak bisa dipercayai. Kadang kesal kalo ingat wajahnya. Melihat fotonya sebatas di sosial mediapun kadang aku langsung tutup bila muncul. Padahal awalnya setelah semua selesai, sering sekali buka buka akunnya padahal jelas fotoku sudah dihapus. Tapi makin kesini, makin takut. Sekarang, malah jadi lupa. Samar samar wajahnya, saking lamanya tidak pernah lihat lagi. Diapun tidak izinkan aku lihat wajahnya lagi sepertinya, akunku dihapus. Padahal sudah ku coba perbaiki semua walaupun bukan sebagai pasangan.
Tapi sudahlah. Aku lupa. Dan tidak mau lagi hubungan jarak jauh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar